Senin, 08 Maret 2010
Cerpen: Aku Harus Jadi Guru » Annida Online
"kamu tu ya cewek, moso mau jadi wartawan. Apa nda ada pilihan
lain?" ibuku berkata saat kusampaikan keinginanku.
"bapakmu ini pengen kamu itu kalo ga jadi guru ya jadi bidan atau perawat, nah
itu pantes buat kamu nduk". Bapak ikut angkat bicara.
"iya nok ayu, kalo jadi guru itu kan selain nantinya kamu bias bekerja tapi juga
kalau sudah punya suami, suamimu juga bias keurus. Lha wong kerjanya Cuma
setengah hari toh? Nah kalo jadi wartawan atau reporter piye toh? Siang malem
nguber-nguber berita". Ibu menasehati dengan lembutnya.
"iya bu, ajeng ikut apa kata ibu dan bapak saja. Lha wong yang biayain kuliah
saya itu bapak sama ibu toh?"
"bagus itu. Itu baru namanya anak bapak". Terlihat ada senyuman rasa bangga di
wajah bapak.
*****
Menjadi seorang guru sebenarnya bukanlah menjadi cita-citaku. Tak
pernah terlintas ataupun terbayang di pikiranku untuk menjadi seorang guru. Aneh
memang, namun itulah kenyataannya. Aku hanyalah seorang anak yang ingin berbakti
pada orang tua, aku tak mau mengecewakan bapak dan ibu yang telah membesarkan,
merawat, mengasihi, melindungi, menyayangi serta mencintai sepenuh hati. Namun
jujur dalam hatiku masih tersimpan keinginan untuk menjadi seorang jurnalis
berita seperti Rosiana Silalahi pembaca berita yang terkenal hebat itu. Dia
seperti wonder women dan dia adalah idolaku. Namun sepertinya itu harapan yang
tak mungkin kulakukan saat ini. Bapak sudah mendaftarkanku untuk kuliah di salah
satu perguruan tinggi di Bandung dan memilih Fakultas Ilmu Pendidikan dan itu
artinya pekerjaanku nanti adalah menjadi guru.
*****
Akhirnya aku diterima di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung
dan mengambil program Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Saat awal masuk kuliah,
kulihat diriku di depan cermin. Ada perasaan aneh dan percaya. Hatiku berkata,
apakah ini aku? Mulai saat ini setiap aku berangkat kulliah aku harus berpakaian
selayaknya guru yang santun, anggun dan berwibawa. Jauh berbeda dengan diriku
sebelumnya yang biasa dengan style casual dan penuh tantangan. Dan tiba-tiba
hari-hariku harus kulalui dengan menjadi seseorang yang anggun. O My God, tak
pernah kubayangkan sebelumnya semua akan menjadi seperti ini. Sebenarnya bias
saja aku berontak atas semua keinginan bapak, tapi aku tak berani. Aku takut
kualat dan tak mau menjadi anak durhaka. Walau dengan setengah hati tapi
akhirnya toh aku berusaha menjalani aktivitaskuliah dengan baik. Aku tak mau
mengecewakan bapak dan ibu. Biaya kuliah zaman sekarang semuanya serba mahal,
jadi aku tak mau membuang duit kedua orang tuaku dengan percuma. Mungkin dengan
inilah caraku supaya pikiran bapak terbuka lebih luas. Dengan aku menjadi anak
yang baik, siapa tau bapak mengizinkan aku untuk mengejar mimpiku yang
tertinggal, yaitu menjadi jurnalis.
*****
Hari pun silih berganti hingga akhirnya tak terasa aku telah
menyelesaikan dua semester. Rencanaku hari ini yaitu mengunjungi perpustakaan
dan membaca surat kabar, siapa tahu ada info mengenai ujian masuk perguruan
tinggi. Hmmm....rupanya sudah ada niat dalam hati untuk pindah jurusan. Tapi...
bagaimana dengan bapak? Kalau bapak tahu, dengan diam-diam aku berniat pindah
jurusan pasti ia akan marah besar layaknya orang kebakaran jenggot.
"ah soal bapak itu urusan nanti, aku yakin mungkin bapak mau mengerti". Tekadku.
*****
Hari ini aku akan mendaftarkan diri untuk ikut tes masuk perguruan
tinggi, dan itu tanpa sepengetahuan bapak. Kalau nantinya diterima ya
Alhamdulillah, kalu tidak pun tak menjadi masalah dan itu berarti aku harus
melanjutkan studiku untuk menjadi guru. Ya, munkin itu nasib sekaligus rejekiku
toh. Semuanya harus kuterima dengan ikhlas. Tapi aku bertekad dalam hati, aku
takkan menyerah sebelum mencoba. Kulangkahkan kaki dari tempat kosan dengan hati
yang menggebu-gebu penuh semangat layaknya orang yang akan bertempur di medan
perang untuk merebut kemerdekaan. Namun kali ini lain ceritanya, ini bukanlah
semangat untuk bertempur, melainkan semangat untuk meraih mimpi dan cita-cita.
Maju tak gentar
Menggapai harapan
Maju tak gentar
Aku harus bisa.
Mungkin itulah kata-kata yang aku bisa kuungkapakan saat ini untuk menyemangati
diriku sendiri.
Cuaca pagi ini cukup panas, walaupun waktu masih menunjukkan pukul 09.15 WIB
ditambah macet pula. Hmm....sekarang Bandung tampaknya tak ada bedanya dengan
kota Jakarta, macet dimana-mana. Mungkin itu dikarenakan jumlah kendaraan di
kota Bandung semakin meningkat seperti halnya yang terjadi di Jakarta. Banyak
kendaraan roda dua dimana-mana.
"perutku laper, makan dulu deh" ucapku dalam hati. Akhirnya kuputuskan duduk di
warung pinggir jalan terlebih dahulu sambil memesan semangkuk bubur ayam. Ramai
juga hari ini, padahal bukan saatnya weekend ataupun libur anak sekolah.
Kutengokkan kepala ke sebelah kiri, dan kuarahkan pandangan pada sesosok bocah
kecil yang sedang duduk pada selembar kertas Koran sambil membaca sebuah buku.
"ade sedang apa? Kok ga sekolah?" kuberanikan diri untuk menyapanya. Dapat
diperkirakan usia anak itu sekitar 10 tahunan.
"lagi baca buku teh. Saya udah ga sekolah, tapi saya mau tetap belajar teh"
"kenapa ga sekolah?"
"emak saya mana mampu nyekolahin saya lagi. Ini aja saya mau ngamen cari duit"
Ya Tuhan anak sekecil ini harus mencari nafkah? Batinku.
"nama kamu siapa?"
"Gilang"
"Gilang udah makan?"
"udah tadi di rumah. Maaf teh saya harus kerja dulu".
Kemudian ia berlari mengejar angkot yang akan berhenti di lampu merah.
*****
Pukul 11.00 WIB aku telah tiba di tempat pendaftaran yaitu di
Universitas Padjajaran. Namun tak tahu mengapa hati ini mulai ragu. Aneh,
padahal ini yang aku inginkan? Tiba-tiba aku teringat pertemuanku dengan Gilang,
bocah cilik yang bekerja sebagai pengamen. Anak seusia itu seharusnya berada di
sekolah, bukan di jalan. Dari lubuk hatiku yang terdalam muncul keinginanku
untuk membantu Gilang dan anak-anak lainnya untuk mendapatkan pendidikan. Mereka
harus sekolah. Dengan semangat yang menggebu-gebu kutinggalkan tempat
pendaftaran itu dan dalam hati aku bertekad "AKU HARUS MENJADI GURU!".
Pertemuanku dengan Gilang telah mengubah hidupku.
END Read more "Cerpen: Aku Harus Jadi Guru » Annida Online..."
Cerpen: Aku Benci Menikah » Annida Online
hanya kelam. Sekelam hatiku yang mendung, yang sebentar lagi akan menumpahkan
air yang amat deras. Isak tangisku seperti halilitar yang menjerit seperti
kilatan cemeti malaikat. Hatiku tercabik-cabik. Senja ini, kelam sekelam cintaku
dan masa depanku.
Baru saja aku bertemu detik itu juga kau harus belalu. Mengapa secepat kilat jua
kau pergi, sayang?.
Kau bilang, cukup!. Ditengah deras hujan tadi siang. Lalu kau menagis, dan
memaki serta menghinaku. Aku tetap diam, tak masalah bagiku. Penghinaanmu
hanyalah ungkapan kesalmu terhadapku yang tak dapat berbuat apa-apa ketika orang
tuamu menayakan tentang kepastianku untuk menikahimu.
Aku sadar ketika kau berlalu, bahwa cinta tanpa pernikahan ibarat perahu
berlayar tanpa tepi. Terombang-ambing di tengah samudra luas dan selalu
berhadapan dengan badai-badai dosa yang tanpa bosan melanda. Aku tahu kau takut,
aku juga takut kita tenggelam dalam samudra gelap yang tak berdasar. Namun,
tahukah kau sayang? Menikah bukan mainan?. Menikah butuh kesiapan lahir dan
batin. Apa yang aku dapat berikan padamu, aku hanya punya cinta, sudah.!, tak
ada lagi selain itu. Bukankah kita tidak makan cinta?.
Katamu dasar hidup adalah cinta, sebab cinta akan mendatangkan kebaikan-kebaikan
yang lainnya. Aku setuju dengan pendapatmu itu. Tapi ini masalah kelangsungan
hidup. Aku ingin kita menikah cukup sekali seumur hidup.
Kau tetap memaksa dan aku tetap belum bisa. Entah, namun aku juga sadar sewindu
bukan waktu yang sebentar untuk menjalin sebuah rasa yang kuanggap sama
denganmu. Rasa cinta dan kebersamaan. Rasa yang dapat membuat aku menjadi
sempurna sebagai seorang laki-laki. Yang aku herankan hanya satu, mengapa aku
tak pernah siap untuk menikah?.
Ditengah rinai senja ini, aku menatapmu. Kau terisak menagis menyesali sewindu
kebersamaan kita. Sewindu kasih dan cinta kita terjalin. Hanya karena satu
permintaanmu yang tak dapat aku berikan, semua itu menjadi puing-puing yang tak
akan lagi utuh. Titik-titik lembut hujan tak menghambat perdebatan kita.
Perdebatan yang selalu berujung dengan tangismu disertai guntur yang
menggelegar.
Badanmu terguncang karena tangis yang begitu mengiris. Aku pegang pundakmu dan
kau tertunduk masih dengan derai air mata dan hujan menyertai. Aku tak dapat
ucapkan apa-apa. Aku hanya menggigit bibirku. Sewindu ini, kita jalin cinta
dengan jarak yang jauh. Kau berharap aku berpikir untuk serius dalam sebuah
hubungan yang lebih baik. Hubungan yang menurutmu akan membuahkan hasil,
hubungan yang dapat membawa kita dalam sebuah tujuan-tujuan mulia. Kau berharap
aku dapat mejadi ayah dari anak-anakmu.
Setiap kau menemui aku, selalu bersama rinai hujan, bersama guntur dan bersama
isak tangis. Aku juga berharap pikiranku berubah, namun selalu saja bayangan
kelam yang terjadi pada keluargaku menjadi patokan dalam hidupku. Aku terlahir
dari hubungan tanpa setatus. Papa dan Mama tak pernah menjalin sebuah
pernikahan. Kata mereka menikah cukup dalam hati. Walau akhirnya, aku menjadi
anak zina. Anak yang terlahir tidak sah. Mereka tetap bertanggung jawab
membesarkan dan menyekolahkanku. Sampai ketika prahara datang, karena Papa
menikahi wanita lain dan Mama merasa dihianati. Aku terlempar jauh dan harus
tinggal di panti asuhan.
Semua itu, menjadikan aku mempuyai pilihan yang menyesatkan. Benciku pada Papa
belum juga hilang. Dan kebodohan mama teramat sangat. Karena mereka aku jadi
takut menikah. Sewindu, ini telah aku coba lunakan kebencianku terhadap
pernikahan. Namun aku gagal. Bayangan masa lalu itu tetap membekas. Mungkin
karena aku terlahir dari kegilaan dan kesesatan kedua orang tuaku.
Senja masih basah. Kau dan aku masih terdiam. Ditengah hamparan rumput hijau
sebuah taman kota. Badan kita semakin mengecil dan memucat. Bibirmu semakin
membiru, dan kelopak matamu semakin membengkak. Kita seperti dua burung merpati
yang meratap kedinginan, mengharap atap untuk berteduh namun hanya hamparan
rumput tanpa ada pohon rindang. Kau sudah mendapatkan cintaku, setulus tulusnya.
Kau hanya meminta agar aku punya hak untuk dirimu.
Menikah memang sebuah kewajiban, yang di perintahkan olehNya untuk umat manusia.
Dan aku semakin jauh dariNya, karena aku menolak perintah itu. Senja yang basah.
Kita menangis bersama, dalam naungan hujan dan getaran gemuruh guntur yang
menggelegar. Kita masih sepakat untuk tetap mencinta walau kau akan berlalu
kembali meninggalkan aku. “I can’t to forget you, because I think loves be not
sin. Loves is godsend. Don’t befool your heart. Because I think you can’t to
be”. Itu pesan terakhirmu, sebelum kau benar-benar berlalu bersama petir yang
mengelegar dan menyambar tubuhmu lalu membantingnya, lalu tubuhmu pun terbakar.
Kau tinggalkan aku di sini tanpa janji lagi, kau hanya berpesan “bahwa cinta
bukan dosa. Dan jangan bohongi hatimu, karena kau tak akan dapat merasakan cinta
tanpa menikah”.
Senja yang basah, sekelabu hatiku. Kepergianmu, setelah penantian sewindu. Aku
bersalah, aku selalu takut untuk menikah. Akhirnya Tuhan memanggilmu karena
setiamu menunggu kepastianku. Kau meninggalkan aku di sini bersama
kepingan-kepingan sesal yang teramat sangat. Kau gadis yang setia, aku laki-laki
pecundang.
Senja yang basah, saksi cintamu yang bersih. Aku menangis, bersama hancurnya
impian-impianmu bersamaku. Aku mengerti, bahwa cinta butuh pengakuan yang suci.
Palapa, Desember 2009 Read more "Cerpen: Aku Benci Menikah » Annida Online..."
Cerpen: “Kado lebaran ‘aan” » Annida Online
cerah, tak ada mendung, tak ada kabut. Yang ada hanya langit biru yang masih
dihiasi awan putih keemasan karena terkena cahaya sang mentari yang baru saja
terbit beberapa menit yang lalu. Pagi ini sangat teramat cerah, hingga
membangkitkan semangat bekerja para buruh petani padi.
Tapi pagi ini bukan pagi yang cerah untuk hati seorang bocah laki-laki berumur
enam setengah tahun. Namanya hana’, yang mempunyai arti “kebahagiaan”. Tapi hari
harinya kini tidak sesuai dengan namanya. “Aan”, itu nama panggilannya. Ia masih
bersekolah di SD wonosari dan duduk di bangku kelas 2 yang ada di desanya. Umur
yang masih terlalu kecil untuk merasakan sebuah kehilangan dan penantian.
Penantian akan seorang kakak dan ayah yang tak kunjung pulang dari perantauan.
Sudah lebih dari tiga bulan ayahnya pergi ke jakarta tanpa kabar. Entah ia baik
baik saja atau telah terjadi sesuatu. Saat ia mencoba bertanya pada ibu, hanya
sebuah jawaban yang tak pasti yang ia dapat. Ibu selalu mengatakan “ayah sedang
bekerja mencari rizki untuk aan sekolah dan beli mainan”. Sedang saat ia
bertanya akan kakaknya yang juga belum pulang dari belajarnya di negeri rantau.
Jawaban ibu tak pernah berubah “mbak alih lagi ujian, ntar kalo ujiannya sudah
selesai, mbak pasti segera pulang”.
Setiap malam aan selalu bermimpi kalo ayah dan kakaknya pulang. Ia bermain
berlarian di lapangan bersama kakaknya, mebuat layangan dan menerbangkannya di
atas bukit. Membuat lukisan alam dari cat air yang hampir habis. Bermain mobil
remote control yang di beli ayah. Mendegarkan dongeng nabi saat ia beranjak
tidur disamping ayah. Membuat mobil-mibilan dari kayu bekas bersama ayah. Tapi
saat pagi datang, semua itu hilang. Dan ia akan kembali kehilangan kedua orang
yang ia sayangi.
Seminggu yang lalu telah di adakan ujian tengah semester. Kata ibu seminggu
sebelum ujian, aan harus giat belajar, agar nanti nilai aan bagus. Dan saat ayah
dan mbak alih pulang, ia bisa menunjukkan kepada keduanya bahwa aan anak yang
pintar dan aan bukan anak yang nakal.
Setiap malam sebelum tidur aan selalu belajar. Mengulang apa yag tadi di
pelajarinya disekolah. Dan juga mengerjakan tugas untuk esok hari. Ia sangat
bersemangat untuk mendapatkan nilai yang bagus, karena ia fikir bila nilainya
bagus maka dua orang yang di nantinya akan segera pulang.
Tapi kini seminggu setelah ujian berlangsung, dan aan telah mendapatkan juara
kelas seperti apa yang dianjurkan ibunya, tapi tetap ayah dan kakaknya tak
kunjung pulang. Aan terus bertanya kapan ayah dan kakaknya pulang pada ibu, tapi
jawaban ibu dari waktu ke waktu tak pernah berubah. “Kata ibu, ayah dan kakaknya
sebentar lagi akan pulang, tapi kapan mereka pulang. Apa ukuran sebentar menurut
orang dewasa adalah berbulan bulan”fikir aan setiap jawaban ibunya terlontar.
Kata kakaknya, saat kakaknya menelephone mereka lewat telphone tetangga
sebelang, ramadhan ini ia akan pulang. Tapi ternyata sampai sekarang pun ia tak
kunjing juga pulang. Hari ini sudah hari ke 20 ramadhan, lalu kapan ayah dan
kakak pulang. Sekolah telah libur mulai besok senin, karena besok sudah hari
libur untuk perayaan hari raya.
Saat bermain bersama, teman-temannya semua membicarakan baju baru, peci baru,
pergi kerumah nenek dan bahkan ada yang bercerita kalau ia harus sibuk membantu
ibunya untuk mengantarkan pesanan roti kering ketetangga yang memesan. Dalam
hati aan, ia tak pernah memnginginkan baju koko baru, peci baru atau kue-kue
lebaran yang enak. Tidak, karena bukan itunyang diinginkannya.
Aan sering bercerita pada ibunya kalau teman-temannya sudah di belikan 3 pasang
baju koko,yang satu untuk sholat ID, yang satu lagi untuk berkeliling ke rumah
tetangga meminta maaf sekaligus menanti pemberian jajan atau uang dari sang
pemilik rumah, dan baju koko yang terakhir adalah untuk pergi ke rumah sanak
saudara. Aan pun mengatakan kalau dia tak menginginkan baju baru atau peci baru
pada ibunya. “…Karena dulu ayah pernah mengatakan hari raya idhul fitri itu
bukan bajunya yang baru tapi hatinya yang baru. kata ayah, orang yang memilik
hati yang baru itu adalah anak-anak yang soleh, yang sayang pada ayah, ibu dan
kakak. Anak soleh itu bukan anak nakal, tapi anak soleh itu anak yang pintar dan
baik. Tidak boleh bentak-bentak orang tua, rajin sholat dan mengaji. Jadi aan ga
usah di belikan baju baru, tapi aan mau jadi anak sholeh. Kata ayah anak sholeh
itu di sayang ALLAH, kalau disayang ALLAH nanti aan masuk syurga, dan disurga
banyak baju baru dan mainan baru”. Tanpa terasa air mata ibunya menetes saat
mendengar apa yang dikatakan aan. Bukan menangis karena sedih, tapi ia bangga
anaknya tumbuh menjadi anak yang pintar dan sholeh, andai ayahnya mendengar apa
yang baru saja dikatakan anaknya ia pasti akan segera pulang.
Pagi ini benar benar pagi yang cerah. Langit merwarna biru dengan biru yang
sebenarnya, diahiasi awan putih yang berbentuk seperti kapas. Burung-burung
berkicau riang, gemericik air sungai menghiasi nyanyian alam. Tapi hati aan
memang sudah benar-benar lelah menahan kesedihan dan kerinduan. Sedih karena ia
harus ditinggalkan dua orang yang ia sayangi.
Pagi ini seperti hari hari libur yang telah ia lewati. Ia membantu ibu mencuci
baju di kali. Maklum air dirumah kering, tapi air disungai jernih dan bersih,
tidak seperti air sungai yang ada di jakarta, kotor dan berwarna seperti yang
pernah dilihat aan di televisi. Setelah mencuci ia akan membantu ibunya
merapikan rumah. Ia akan menata barang-barang yang berserakan dan ibu yang
menyapu dan mengepel lantai.dan stelah pekerjaan rumah selesai ia akan minta
ijin ibunya untuk pergi ke bukit, ia akan melukis alam disana atau bila tidak ia
akan bermain bola dilapangan desa bersama teman-temannya.
Walau terlihat ceria dan tetap tampak bahagia, aan masih menyimpan kesedihan dan
kerinduannya dalam hati. Mungkin hal ini lah mengapa ia pantas mendapat nama
hana’(kebahagiaan)dari kedua orang tunya, ia akan selalu bahagia walau dalam
kesusahan.
Hari terus berlanjut, tiap adzan magrib berkumandang dan setelah selesai berbuka
dan sholat magrib selesai, Aan kembali menanyakan perihal kepulangan kedua orang
tersayangnya pada ibu. Dan jawaban ibu tak berubah dari tiga bulan yang lalu.
Tapi kali ini ibunya terlihat ragu saat mengatakan bahwa mereka akan segera
pulang saat ditanya “ apa lebaran nanti ayah dan mbak alih pulang? Aan mau
nunjukin lukisan aan ke mbak alih dan rapot sekolah aan ke ayah, aan juga mau
kasih tahu kalau puasa aan ramadhan ini penuh”.
Waktu terus berputar, hingga akhirnya magrib terakhir di bulan rhamadan ini pun
berkumandang. Semua orang bersorak mengumandangkan takbir. Berbuka dengan kolak
spesial, makan dengan daging panggang lengkap dengan buah dan sirupnya.
Bercerita akan rencana mereka besok setelah sholat ID. Tapi berbeda dengan apa
yang ada di rumah aan dan ibunya, mereka tetap berbuka dengan air putih dan
gorengan seadanya, kali ini aan mengungkapkan keinginannya setelah menanyakan
kepulangan ayah dan kakaknya ba’da sholat magrib berjamaah dirumahnya bersama
ibu. “bu…” dengan wajah memelas aan memanggil ibunya “kapan ayah dan mbak alih
pulang?” ibunya kini menjawaban dengan jawaban yang lebih panjang dari biasanya
” ayah sedang bekerja mencari rizki untuk aan sekolah dan beli mainan dan mbak
alih lagi ujian, ntar kalo ujiannya sudah selesai dan ayah selesai bekerja pasti
segera pulang, tapi ibu tidak tau pasti apa besok ayah dan mbak akan sholat ID
bersama kita atau tidak. Aan mau jadi anak sholeh kan? Anak sholeh itu anak yang
sabar, jadi aan harus sabar menunggu ayah dan mbak pulang. Aan mau dapat hadiah
syurga dari ALLAH kan”. Aan pun menjawab dengan lantang dan tegas “pasti ibu.
Aan mau jadi anak sholeh, aan akan sabar menunggu kepulangan ayah dan mbak alih,
nanti aan juga mau berdoa pada ALLAH supaya ayah dan mbak alih cepat selesai
mengerjakan tugasnya dan bisa pulang secepatnya. Karena aan sudang kangen
sekali. Bu…aan boleh minta sama ALLAH besok ayah dan mbak alih pulang ga? Kan
asik sholat ID bareng-bareng.”
Ibunya tak kuasa menahan tangis hingga keluarlah air mata itu dari matanya
sambil berucap “ pasti boleh aan, ALLAH itu sayang pada hambanya,jadi aan boleh
minta apa aja pada ALLAH tapi syaratnya aan harus jadi anak sholeh. Dan anak
sholeh itu harus sabar”.
Di tengah percakapan dua orang ibu dan anak itu, tiba-tiba terdengar suara pintu
di ketuk dan ada ucapan salam dari baliknya. Aan pun bergegas membukakan pintu
dan menjawab salam. Dan subhanallah, segala puji bagi allah yang maha atas
segalanya, yang apapun akan mudah bagiNYA bila ALLAH berkehendak. Di depan pintu
terlihat laki-laki setengah baya mengenakan Hem lengan pendek dan tas gendong
penuh isi dan satu jinjing plastik entah berisi apa.
“ayah…subhanallah” dicium tangan ayahnya dan berlari kebelakang dan kembali
menggeret lengan ibunya untuk menemui ayahnya sambil berteriak ” ibu…ayah
pulang”.ibunya bertasbih menyebut nama ALLAh, Maha besar ALLAH atas apa yang di
anugerahkannya. Suasana haru terasa di ruang tamu rumah kecil itu. Saat mereka
tengah asyik bertukar rindu tiba-tiba terdengar lagi ucapan salam dari balik
pintu depan rumah mereka. Kali ini terdengar lembut ucapan salam itu. Aan
langsung berlari membuka pintu saat jawaban salam dilantunkan oleh seisi rumah.
Dan kali ini benar benar sebuah keajaiban dari ALLAH. Dua orang terkasih yang
dirindukan aan pulang disaat yang benar-benar ia inginkan.
Malam itu mereka sholat berjamaah di rumah. Sholat kali ini terasa berbeda.
Benar benar khusuk penuh hikmah, seolah ingin mengungkap rasa syukur yang sangat
mendalam.
Selesai sholat mereka berbincang bersama melepas kerinduan dan aan pun
memamerkan lukisan lukisannya selama ini juga rapotnya pada kedua orang yang ia
sayangi yang kini telah hadir disisinya.
Tangis haru sudah tumpah sejak kepulangan dua orang itu dan kini bertambah haru
setelah lukisan dan rapot itu ada di tangan ayah dan kakaknya. “itu lukisan aan
mbak, bagus kan, hampir sebagus likisan mbak kan?...coba waktu itu melukis
bersama mbak pasti lebih bagus.tapi tidak masalah mbak, yang penting sekarang
mbak sudah pulang” cerita aan panjang lebar yang kini duduk manja di pangkuan
ayahnya.
“ini lukisan paling bagus yang pernah ada,mana ada pelukis yan merobek
lukisannya sendiri..” canda kakanya sambil menunjukkan sisi kertas lukisan itu
yang sobek. Aan tak mau disalahkan “itu ga sengaja ke dudukan waktu buka bersama
di masjid dua minggu yang lalu”
Perbincangan terus berlanjut. Aan mendapat hadiah baju koko baru dan
mobil-mobilan remote control dari ayahnya. Kakanya pun menceritakan bahwa
ujiannya sukses. Ia mendapat nilai A untuk Tugas Akhirnya. Dan besok oktober ia
bisa ikut wisuda dan mendapat gelar S.T( Sarjana Teknik) dari salah satu
Universitas terkemuka di Semarang, tempat merantaunya.
Pagi nan fitri ini adalah pagi yang cerah. Langit yang biru dihiasi awan putih
bersih, udara yang berhembus lembut, kicau burung yang riang, gema takbir yang
tak putus dari kemarin malam. Membuat suasana Idhul Fitri kali ini benar indah
apa adanya. Indah akan sebuah lukisan alam, indah akan kebahagian sesungguhnya,
indah akan kemenangan akan nafsu, indah akan jalinan persaudaraan, indah karena
kini keluarga wafiq ihza hana’ (nama panjang aan) telah berkumpul dengan membawa
kabar gembira. Walau tanpa opor ayam, walau tanpa ketupat, walau tanpa kue-kue
yang lezat, walau hanya dengan satu pasang baju koko baru, tapi hadiah Idhul
fitri aan telah ia dapatkan, yaitu pulangnya dua orang yang ia sayangi setelah
ibunya.
Tembalang,september 2009
Umi adek aq past pulang
Nama : Galih Sulistyarini
nama pena: lihsty han
Tempat, tanggal lahir : Wonosobo, 04 Desember 1988
Jenis kelamin : perempuan
Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa
Agama : Islam
Alamat : jl. Tembalang baru 1 no.88 kecamatan Tembalang, Semarang
Alamat Email : lihsty_h@yahoo.com / gsulistyarini@yahoo.com
No. Telp : 085740640146 Read more "Cerpen: “Kado lebaran ‘aan” » Annida Online..."
ಆಕು ಕುಪು ಕುಪು coklat
"Aku mengepakkan sayap cokelat. Melewati malam memejamkan mataku di tonggak
listrik, di bawah lampu jalan, sungguh menjemukan. Pengembaraan yang seharusnya
tak terjadi harus dimulai.
Aku tak tahu, benar atau salah kedatanganku ke kota manusia, ke kota
orang sibuk, ke kota orang mati, ke kota budak manusia. Entah kota yang mana
yang sedang kudatangi pada pagi ini, saat embun belum turun dari dedaunan, saat
kokok ayam belum lama berhenti, saat pagi masih menyisakan dingin di sayapku.
Di kota ini aku menemui banyak gedung bercakar langit, seperti kota-kota
lain yang sudah kudatangi. Di bawahnya pohon-pohon palem sepanjang badan jalan,
ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar. Pohon palem itu sengaja cap
putih menindihnya. Di dalam taman gedung cukup tersedia ruang kosong.
Taman-taman kecil yang didesain sempurna. Barangkali ahli Eropa yang melakukan.
Tak kalahnya kolam renang biru langit juga tersedia setiap aku bertemu
gedung-gedung bercakar langit.
Di kota ini juga aku menemukan mobil-mobil mengkilat berbagai merk dan
corak; warna hitam, metalic hitam, silver, blue. Semuanya barang mahal yang
didatangkan dari negeri-negeri terkenal. Bukan dari negeri ini. Tak kutemui
pabrik milik sendiri yang mampu menghasilkan mobil secanggih-barangkali kalau
ada hanya sepersepuluh canggih dari mobil-mobil itu. Tapi. Ah, hampir aku
menubruk kaca spion mobil metalik hitam. Kumpulan mobil yang aku ceritakan. Aku
mengitari mobil itu dari ujung kepala sampai ke ujung kepala berulang kali.
Kukepakkan sayapku bewarna cokelat puluhan kali, ratusan kali, bahkan ribuan
kali. Aku bersyukur Tuhan memberikan warna cokelat. Kalau aku ungu, hijau,
kuning di kota ini tentulah aku ditangkap boca kecil. Aku dianggap sangat imut,
manis, dan menggelikan.
Anak kecil yang sedang duduk dalam mobil itu akan sadar langsung,
melihatku yang bewarna cerah. Sungguh, aku tak mau ditopleskan walau di rumah
bertingkat sekalipun, yang di sekelilingnya ada taman. Bagiku hidup adalah
kebebasan, kebebasan berapresiasi, kebebasan berkreasi. Aku beruntung menjadi
kupu-kupu cokelat.
Di kota ini aku juga menemukan selokan-selokan kumuh, sampah-sampah plastik lupa
didaur ulang, batok-batok kelapa mengapung berkecambah, semak-semak belukar
sepanjang bantaran kali yang kotor; ingin rasanya menutup hidung, tapi bagaimana
caranya, aku seekor kupu-kupu.
Aku meleset terbang sepanjang hiliran kali, perlahan kukepakkan sayap, kini
lebih lincah. Cahaya matahari sudah dingin di kedua sayapku. Di hiliran kali aku
melihat ibu-ibu sedang mencuci baju kemeja, celana panjang, kain, rok mini,.
Mungkin kota hanya menyediakan ini bagi mereka.
***
Sungguh sebab mengapa sayapku bewarna cokelat, sebab mengapa aku sampai di kota
orang mati? Bukankah tempatku di hutan belantara sana; tempat kupu-kupu kuning
berbintik-bintik hitam di kedua sayapnya bersemayam? Tempat kupu-kupu hijau
bercampur biru melingkar dengan titik hitam, serupa setetes air di kedua
sayapnya. Tempat kupu-kupu ungu bermata putih dengan lingkaran hitam di kedua
sayapnya. Padanya garis-garis memanjang bewarna hitam putih. Itulah yang hendak
kukisahkan.
Dahulu aku beranak istri di hutan sana. Anakku bersayap hijau dengan mata hitam
berbintik putih di kedua sayapnya. Garis-garis merah sepanjang tepi. Istriku
bersayap kuning bermata putih dilingakari warna hitam tipis. Aku kupu-kupu
beruntung bewarna hijau yang kuwariskan kepada anakku.
Aku punya banyak saudara di sana. Kami puluhan, kami ratusan, kami ribuan, kami
jutaan. Terbang dari satu pohon ke pohon, dari satu dahan ke dahan. Dan yang
paling kami suka dari satu bunga ke bunga. Kami akan berbahagia berbagi madu.
Bunga juga tidak kami rugikan. Kami membantu penyerbukkannya dari satu bunga ke
bunga. Kaki-kaki mungil kami, mulut-mulut kami, juga melakukannya. Tapi entah
bingal? Entah kami terseret di tanah kelahiran. Barangkali terlalu kejam, atau
lebih tepatnya penganiayaan. Bukankah kami makhluk Tuhan? Bukankah kami punya
manfaat? Setiap yang diciptakan tiada yang sia-sia, namun siapa mendengar ucapan
penderitaan. Aku hanya bangsa kupu-kupu, juga mereka saudaraku. Barangkali
memang bingal, yang jelas bukan kami.
"Apakah mereka tak punya lahan, Mas," tanya istriku sehabis bangkit dari tidur
di balik daun kelapa. Suara mesin membangunkannya. Aku tahu istriku marah.
Sebagai pasangan aku mengenalnya, walau bangsa kami sering gonta-ganti pasangan,
tapi tidak bagi kami.
"Mereka punya lahan, Ma. Luas lagi."
"Lalu kenapa mereka bingal?"
"Mereka hanya mencari kesenangan, kesenangan seperti kita."
"Kesenangan seperti apa yang Mas maksud. Kesenangan mereka mengganggu kesenangan
kita! Kesenangan mereka meluluhkan tanah lahir kita!"
"Jangan buruk sangka, Ma dan ki...." Aku terbang mendekati istriku,
mengajak ke dalam bunga, mencari madu. Tapi. Ah. Dia sudah memotong kataku.
"Siapa yang buruk sangka. Mereka buas sudah fakta. Mereka tak pernah puas
dengan jerit kita. Mereka tak mengenal sosial, tapi katanya mereka orang yang
bersosial."
"Maaama!"
Siapa yang tidak kecewa, tidak sedih, tidak menangis kalau tanah lahirnya harus
diusik. Dengan alasan apa mesin-mesin itu masuk ke negeri kami? Mesin tanpa akal
yang dijalankan makhluk berakal. Haruskah ini tanda bahwa kami harus angkat kaki
dari rumah sendiri? Rumah yang juga dihunyi oleh para beruang madu, beruang
bermoncong putih, simpai kuning, kera berbuntut lebar. Semua serupa petasan yang
mengangkasa ke langit kelam. Perbuatan yang menyisakan bahwa air mata itu
kering.
Mesin itu meluluhlantakkan pohon-pohon, bunga-bunga tempat kami mencari madu,
daun-daun tempat kami bernaung di malam sunyi, di malam di mana kami mendengar
sajak-sajak jangkrik, sajak ayam di waktu fajar. Malam pada akhinya berubah
menjadi kebisingan. Tak ada sahabat yang melantunkan sajak. Semua kami harus
terbirit-birit menghindari kekerasan yang tak lebih adalah penjajahan.
Mesin-mesin itu semakin jauh masuk ke negeri kami, negeri surga, negeri
tempat bernaung kupu-kupu. Mesin itu mempunyai rantai di kedua sisi matanya.
Bunyinya memekakkan telinga, menjadikan negeri kami bagai negeri hantu. Di
belakangnya mesin-mesin sebesar gajah punya moncong, punya sendok, berkaki
melata.
Kayu-kayu menjulang langit, roboh. Tak ada alasan mengapa kami, rumah
kami, jasad kami harus ikut musnah. Padahal tak ada salah, tak pernah mengganggu
manusia. Kayu-kayu hanya tinggal pangkal, bunga-bunga tak lagi pernah mekar.
Mesin telah membuat kami menangis, sedang jasad kupu-kupu telah membuat kuburan
sendiri di bawah rerimbunan daun runtuh, di bawah ranting, di bawah bunga
tumbang. Mereka berkata kepadaku dalam batin."Adakah ini sebuah penyerahan pada
orang-orang kota mati? Kematian yang menyempurnakan kekekalan mereka. Kami hanya
ingin hidup tenang berbagi kasih sayang, rindu dan pertualangan. Kami belum
ingin mati, masih ingin berlayar ke dunia yang dicipatakan Tuhan. Kami makhluk
Tuhan yang baik hati, dari ulat menjelma kepompong, dari kepompong menjelma
kupu-kupu. Begitu kami menyucikan diri. Kupu-kupu hijau sampaikan pada
orang-orang kota mati "kami dicipta untukmu"." Benarkah mereka mau mendengar?
Kami sedang berhubungan dengan orang mati, hanya sebuah kesia-siaan. Barangkali
dunia kami tak dihanggap menarik lagi.
Aku benar-benar membiarkan air mata mengering jatuh ke tanah. Istriku terhimpit
ranting kayu meranti, satu sayapnya terbanglah sudah, merintih kesakitan yang
mengguncang bumi, keperihan yang selalu dikenang di mataku. Nafasnya yang
terakhir pergi dari belaian sayapku.
Aku memang tak cacat sedikit pun, kejadiannya saat aku berada di sungai.
Anakku yang senada denganku juga mangkat bersama kupu-kupu lain. Hanya aku yang
masih utuh di luar, di dalam remuk, di dalam ada kesedihan, di dalam ada dendam,
di dalam ada benci.
Kayu-kayu tumbang, merintih.
"Kupu-kupu hijau, apakah itu rindu? Kami belum ingin pergi dari dunia
ini. Kami punya kenangan manis, punya kenangan pahit, punya air mata dalam
serat batang-batang yang di dalamnya tersimpan bola-bola dunia. Bola dunia itu
indah.
Di negeri ini kami menemukan kupu-kupu yang terbang dari bunga ke bunga.
Kami punya surga, tapi surga itu dilenyapkan oleh manusia. Kupu-kupu hijau
selamatkan kami?"
Benar! Benar! Benar, surga kita negeri hijau tumbang. Tak ada yang dapat
aku selamatkan, hanya keping-keping kenangan yang lebih pahit dari bunga bangkai
yang pernah kucicipi.
Pada bulan-bulan yang datang silih berganti. Aku terbang dengan sayap setengah
warna hijau mulai memudar, mengeling bekas-bekas kayu, bahwa di sini pernah ada
surga, bahwa di sini aku mewariskan senada kepada anakku. Semua itu tak lagi
kutemui. Hanya ada cerobong-cerobong mengeluarkan asap. Terdengar jeritan tanah
yang dikupas, dibumiratakan.
"Tuhan, aku rindu Engkau, rindu kasih sayang-Mu, rindu cinta-Mu. Jangan
biarkan orang-orang kota mati meluluh-lantakkan kami. Tuhan atom yang mengandung
proton, neutron, elektron dalam tubuh kami tak lagi bergerak menurut apa yang
Kau kehendaki, manusia telah mengingkari keberadaan kami."
Sayapku tak lagi hijau muda; cokelat tua yang sudah membayang dengan
gurat kepasrahan di tubuhku. Warna asap itu telah mengubahku, telah melunturkan
warna muda, mungkin takkan pernah tercicipi lagi. Sedang negeriku gundul senada
dengan warna yang kuwarisi, menyisakan kepasrahan, ketidakberdayaan; bahwa
sebuah cerita rindu lama akan dikubur. Sempuna sudah metamorfosisku, sayap
cokelat bertitik hitam lingkaran putih serupa mata di kanan kiri.
***
Keberadaan sayapku bewarna cokelat di kota manusia, di kota orang mati harus
kusyukuri. Hanya dengan begini aku bisa beradaptasi, terbuang dari negeri
sendiri.
Aku meleset terbang semakin menyusuri kali. Baunya yang menyisakan amis sangat
mengerikan, sedangkan di tepi kali rumah-rumah bertiang kayu menjorok ke sungai
layaknya selat. Agak ke tengah berjajar rumah-rumah pembuangan limbah perut. Aku
mendekat mencoba mencari, mungkin di sana bertengger madu. Hampir saja sayap
gelapku ditimpa tinja salah satu pembuangan berdinding terpal lusuh. Aku
terperanjat ke sudut sungai, sayapku basah.
***
Sudah sebulan di kota yang penuh susah, sudah sebulan tak lagi memiliki tempat
di negeri kupu-kupu, sudah seminggu hujan mengguyur tanpa henti. Semua harus
ditanggung bukan oleh segelintir orang, bukan oleh orang-orang yang kehilangan
hati, orang yang tak tahu menahu ikut mereguk akibat.
Galodo datang dari bukit melewati tebing, melewati bebatuan. Bunyinya
gemuruh menggetarkan anak telinga, masuk ke ruang yang berbentuk siput. Galodo
itu semakin dekat dengan pandangan mata orang-orang kota mati. Di dalam galodo,
kayu-kayu setengah meranggas, patah bergulum ke hilir sungai. Puing-puing rumah
sudah jadi kapas dengan perahu seng berair cokelat. Galodo menghanyutkan
pohon-pohon palem, bergulum ke kolam-kolam gedung bercakar langit, kerumah-rumah
bertingkat yang menyimpan mobil kehilangan manfaat.
Negeri kami negeri kupu-kupu sudah kehabisan sabar. Bukit-bukit gundul, tak ada
kayu muda, tak ada kayu kenari, kalek, meranti. Tak ada akar-akar yang menahan
air mengalir ke hilir.
Sekarang aku tak lagi punya tempat di kota mati. Sayap cokelat barangkali
berubah jadi biru laut. Di laut ada tempat luas, sayang aku sudah terburu
meletakkan nafas. Sebatang pohon palem bersedia bergulum denganku. Read more "ಆಕು ಕುಪು ಕುಪು coklat..."
Cerpen: Sorban Buat Ayah » Annida Online
Sorban Buat Ayah
Penulis : Elie Mulyadi
Ayahku menginginkan sebuah hadiah untuk lebaran. Sebuah sorban. Ya, hanya sebuah
sorban. Tapi bukan sorban biasa yang bisa kautemui di toko-toko baju di kota
kecilku, melainkan sorban istimewa seperti yang dimiliki seorang ustad ternama.
Ustadz itu sering tampil di layar kaca, dan kalau tampil selalu mengenakan
sorban yang modelnya sama. "Aku ingin sorban yang seperti itu, itu akan menjadi
hadiah lebaran terindah untukku."
Aku tahu, aku harus memenuhi keinginan Ayah. Dan aku sudah berusaha semampuku,
berkeliling pasar dan toko-toko baju di seluruh kotaku. Namun sampai tiga hari
menjelang lebaran, sorban itu belum juga kudapatkan.
Kemudian aku mendapat kabar dari seorang tetangga yang kebetulan punya sorban
yang mirip dengan ustadz ternama itu. Sorban berbentuk segiempat yang bisa
dililit-lilit di kepala.
"Belinya di mana, Pak Haji?" tanyaku pada Pak Haji pemilik sorban. Dan dia
menjawab dengan bangganya, "Ini saya beli di Bandung, dari butik muslim. Yang
beginian memang cuma ada di Bandung. Di kota kecil ini mah tidak ada. Harganya
juga mahal. Lima ratus ribu."
Kakiku seperti mencelos dari pijakan. Lima ratus ribu? Belum ongkos ke
Bandungnya. Untuk pulang pergi naik bus saja takkan kurang dari dua ratus ribu.
Aku terduduk lesu.
"Daripada repot-repot pergi ke Bandung," kata Pak Haji. "Beli saja punyaku, tapi
harganya sejuta."
Mataku membelalak seolah mau keluar dari rangkanya. Sejuta? Duh, Pak Haji ini,
yang benar saja. Darimana aku dapat uang sebanyak itu? Baiklah, uang sejuta di
jaman sekarang tidaklah sangat besar, tapi untuk ukuran pemuda yang masih
menganggur sepertiku, jumlah itu cukup untuk membuat leher terasa kaku.
Aku pulang ke rumah dengan hati risau. Kulihat Ayah sedang duduk di kursi
goyang, semakin hari kesehatannya semakin mencemaskan. Umurnya bertambah tua,
sakit-sakitan dan...kesepian. Anak-anaknya, kecuali aku, sudah pergi merantau ke
kota besar. Mereka seolah sudah tak mempedulikan dirinya. Dan sekarang,
satu-satunya keinginannya, yakni memiliki sorban yang mirip kepunyaan ustadz
favoritnya, tampaknya takkan terkabul.
Aku sedih memikirkan ayahku. Juga sedih memikirkan diriku. Sejak lulus SMA,
teman-temanku sudah pergi ke luar kota, baik untuk kuliah maupun mencari kerja.
Mereka memberikan kebanggaan pada keluarga yang ditinggalkan, baik reputasi
sebagai mahasiswa, maupun upah yang dikirim setiap bulannya. Sedangkan aku,
hanya bisa duduk di sini, di rumah ini, menunggui ayahku yang semakin larut
dengan dunianya sendiri. Dia sudah tua, dan yang dibicarakannya hanyalah
kematian.
"Kalau aku mati, tolong kuburkan di halaman belakang, di samping nisan ibumu,"
ujar Ayah suatu kali. "Kalau aku mati, kau harus pergi merantau dan menemui
kakak-kakakmu," ujar Ayah di kali yang lain. "Kalau aku mati, siapa yang akan
mengurusmu?" isak Ayah sambil memelukku seolah aku ini anak kecil. Hey, umurku
bukan 2 tahun, tapi 22 tahun!
Di kesempatan lain, Ayah berubah menjadi pemberang. Seharian marah-marah dan
membanting barang. "Berhenti genjrang-genjreng, atau akan kubuang gitar bututmu
itu!" hardik Ayah saat melihatku duduk-duduk di teras sambil memetik gitar,
menirukan suara serak vokalis ST12.
Semarah apapun Ayah, aku tak pernah merasa tersinggung atau kesal. Aku memaklumi
bahwa semakin tua, perangai seseorang akan semakin tak menyenangkan. Ayah
kembali menjadi bayi kecil yang rewel, dan itulah siklus kehidupan. Yang muda
menjadi tua dan kembali seperti anak kecil lagi. Tapi kalau Ayah sudah
menyinggung soal gitarku, apalagi mengatainya sebagai "gitar butut", kemarahanku
langsung terlecut.
"Ayah jangan bilang ini gitar butut. Biar butut, ini adalah masa depanku,"
ujarku setiap kali Ayah mengomeli gitarku. Bagi Ayah, aku dan gitarku ini ibarat
sosok seniman muda yang kumal dan putus asa, sama seperti yang sering ditemuinya
pada sosok pengamen jalanan yang semakin lama semakin memenuhi sudut-sudut kota.
Aku sadar, aku masih menganggur. Tak bisa memenuhi semua kebutuhan Ayah. Tapi
sejak lulus SMA, gitar inilah satu-satunya temanku, dan harapanku. Dengan gitar
ini, aku sudah menciptakan beberapa lagu, yang sekarang sudah diputar sebagai
jingle-jingle di radio lokal. Aku tak berharap menjadi seorang penyanyi
terkenal, namun bagiku gitar ini punya masa depan. Aku akan terus mencipta lagu,
dan mungkin suatu saat nanti akan ada yang mau membeli lagu-laguku untuk
dinyanyikan para penyanyi terkenal. Aku akan mendapat royalti dari lagu-laguku,
dan kata temanku yang sudah hampir lulus sarjana, itu namanya passive income.
Lebaran tinggal dua hari lagi. Pak Haji sudah menanyaiku lagi apakah aku
tertarik untuk membeli sorbannya. Aku belum menjawab. Sebenarnya, aku sudah
berusaha menelepon kakak-kakakku yang katanya berhasil di perantauan. Tapi tak
ada satu pun dari mereka yang merespon kata-kataku.
"Ayah ingin sorban yang mirip punyanya ustadz di TV? Emangnya Ayah mau tampil di
TV! Ada-ada saja kamu," ujar kakak sulungku yang sekarang sudah jadi karyawan
sebuah bank di Jakarta.
"Beliin saja sorban yang ada di pasar, Ayah pasti tidak akan tahu," kata kakak
keduaku yang sekarang sudah jadi manajer toko elektronik di Tangerang.
"Hah, sejuta? Mana ada sorban yang harganya segitu! Cari aja yang dibawah
seratus ribu, pasti banyak," usul kakak ketigaku yang sudah jadi istri
pengusaha. Sejak menikah, kakakku yang ini memang jadi agak pelit. Uangnya hanya
dipakai untuk ke salon dan belanja, tapi tak sedikitpun tertarik untuk
membelikan sesuatu yang disukai Ayah.
Aku masih ingat, selalu ingat, setiap kali lebaran datang, ketiga kakakku akan
pulang. Mereka datang dengan mobil mengilap, pakaian bagus, dan oleh-oleh
sebagasi penuh. Namun satu yang mereka tak pernah lakukan, bertanya kepada Ayah,
apa sih sebetulnya yang beliau inginkan. Mereka menghabiskan banyak uang hanya
untuk oleh-oleh yang menurut mereka bagus, mahal, atau hanya dapat dibeli di
kota besar. Tapi mereka tak pernah tahu, dan tak mau tahu, hadiah apa yang akan
membuat Ayah merasa spesial.
Malam itu, dua hari menjelang lebaran, aku berkumpul dengan teman-temanku seusai
shalat tarawih. Seperti biasa kami kumpul di pos kamling, menyiapkan segala
sesuatunya untuk keliling kompleks membangunkan sahur besok pagi. Aku memang
aktif menjadi pengurus karang taruna dan masjid selama Ramadhan ini.
Tiba-tiba, Amiruddin, salah seorang dari kami, mengajak aku dan Bondan menjauh.
Kami pergi ke tempat yang agak tersembunyi.
"Kalian tahu Haji Surya kan?" Amiruddin berbisik. "Kabarnya dia lagi berangkat
ke Semarang, mau lebaran di sana. Rumahnya kosong. Kalau kalian berminat ikut
denganku besok malam saat orang-orang shalat tarawih, kita bisa bagi hasil..."
Aku dan Bondan saling berpandangan. Sesaat otakku berputar, berusaha mencerna
makna dari kalimat temanku itu. Tiba-tiba perutku terasa mual. Apa ini? Dia
sedang membicarakan rencana perampokan?
"Ada dua buah TV 29 inch di ruang tengah, satu lagi di kamar, dan sekotak
perhiasan di lemari pakaian," Amirudin sibuk menjelaskan. Jelas saja dia tahu
benda-benda berharga milik Haji Surya, karena dia mantan pegawai di rumah itu.
Amir pernah bekerja sebagai tukang kebun lalu naik pangkat menjadi sopir
pribadi, dan dipecat karena ketahuan pacaran dengan salah satu anak perempuan
Haji Surya.
"Tugasmu hanya berjaga di luar, memberi tanda kalau ada orang datang, dan
sebagai imbalannya, kau boleh memiliki salah satu dari TV 29 inch itu,"
bujuknya.
Dengan dada berdebar, aku mulai menghitung-hitung. TV 29 inch kan harga
pasarannya sekitar dua juta. Kalau laku sejuta saja, itu akan cukup untuk
membelikan Ayah...
Oh, tidak! Aku bergidik dan menggelengkan kepala.
"Tapi ayahmu sangat menginginkan sorban itu, dan memenuhi keinginan orangtua
wajib hukumnya," Bondan yang sudah terkena bujukan Amirudin berkata enteng.
"Iya tapi bukan dengan jalan merampok," bantahku.
Amirudin tertawa dan menepuk bahuku. "Ya udah terserah. Tapi kalau kamu berubah
pikiran, besok malam kita kumpul di pos kamling, aku akan paparkan strateginya.
Dan ingat, ini misi rahasia." Akhirnya, kami bertiga pun bubar.
Malam itu aku tak bisa tidur. Rencana teman-temanku begitu mengusik batinku. Aku
mencoba menghapus pikiran yang mengusik itu dengan memetik gitar di kamarku.
Namun dari kamar bawah, Ayah terbatuk-batuk keras dan berteriak, "Gitar bututmu
itu membuat telingaku sakit!"
Esoknya aku bergerak ke sana kemari, meminjam uang ke sana-sini, kepada
teman-temanku sesama pemuda masjid, dan kepada orang-orang yang suka nongkrong
di pangkalan ojek. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, tak ada yang bisa
membantuku. Hari semakin sore. Azan maghrib tiba, namun bukannya senang karena
bisa berbuka puasa, aku malah cemas. Ketika adzan Isya terdengar, dan
orang-orang mulai pergi ke masjid untuk tarawih, kita kumpul di pos kamling,
kata-kata Amirudin terngiang lagi.
Setelah shalat maghrib, aku tidak pergi ke masjid untuk mempersiapkan karpet
untuk sholat tarawih seperti biasanya. Aku mengurung diri di kamar. Bimbang.
Lalu kupetik gitar pelan-pelan. Ayah terbatuk dan berteriak, "Bukannya ke mesjid
atau ngaji, malah genjrang-genjreng. Makin hari kamu makin seperti berandalan
saja!"
Kulemparkan gitar ke sudut kasur. Bunyi senar beradu dengan pinggiran ranjang
kayu membuat hatiku resah. Aku semakin gelisah. Sudah seminggu ini batuk-batuk
Ayah semakin parah. Sudah beberapa kali aku mengantarnya berobat ke rumah sakit,
namun belum sembuh juga. Aku takut Ayah takkan bertahan lebih lama. Sementara
keinginannya untuk memiliki sorban belum terpenuhi. Apa yang harus kulakukan?
Lusa adalah lebaran, dan besok adalah hari terakhir di mana aku bisa membelikan
sorban sebagai hadiah lebaran untuknya.
Aku tahu, sebetulnya Ayah tidak terlalu menginginkan sorban itu. Ayah ingin naik
haji. Namun dia tahu, dia tak bisa meminta kepada anak-anaknya, meskipun
kakak-kakakku pasti mampu membiayainya. Dan sorban adalah semacam pelipur lara
hatinya. Hanya itulah satu-satunya hadiah yang ia tahu takkan memberatkan
anak-anaknya, namun bahkan kakak-kakakku tak menggubrisnya. Kini hanya aku yang
bisa mengabulkan keinginan Ayah-membelikan sorba itu sebagai hadiah.
Tak terasa azan isya berkumandang. Amirudin dan Bondan pasti sudah menungguku di
pos kamling. Akhirnya dengan sejuta kebimbangan merayap, sekaligus berputarnya
akal sehat, kuganti baju koko dan sarungku dengan kaos oblong dan celana jins
yang lebih simpel. Lalu pelan-pelan kubuka pintu kamar. Ayah sedang wiridan di
kamarnya, dan kupastikan ia benar-benar tidak melihatku. Dengan hati-hati, aku
berjalan keluar, menutup pintu dan meninggalkan rumah....
***
Hari lebaran tiba. Suara takbir berkumandang melalui pengeras suara.
Kakak-kakaku sudah datang dari rantau semua. Rumah ini jadi terasa ramai dan
hangat kembali. Yah, meskipun hanya akan berlangsung dua atau tiga hari,
lumayanlah untuk menghapus kesepianku bersama Ayah selama setahun ini.
Tadi malam kami sudah berkumpul bersama, saling melempar canda tawa.
Kakak-kakakku sibuk mengangkut oleh-oleh yang mereka bawa dari bagasi. Baju,
sarung, peci, dan aneka jenis makanan mahal tertumpah semua di meja, menunggu
giliran untuk dibuka oleh Ayah. Namun wajah Ayah tidak terlihat gembira.
Kegembiraannya baru terlihat saat ia mengambil sebuah bungkusan kecil yang
kuletakkan di antara tumpukkan hadiah mahal itu. Sementara aku menyibukkan diri
untuk bermain bersama keponakan-keponakanku, mataku menangkap detik-detik ketika
Ayah membuka hadiah itu. Hadiah sorban yang telah lama diimpikannya. Dan kedua
matanya berkaca-kaca.
Sepulang shalat ied, Ayah sudah menunggu kami untuk bergiliran sungkeman
padanya. Dan sorban itu sudah melilit di kepalanya, membuatnya tampak seperti
seorang ustadz betulan. Ketika aku sungkeman padanya, Ayah berbisik. "Aku sudah
tahu," katanya. Ia mengusap kepalaku dan mengucapkan terima kasih. Kurasakan air
mata jatuh di pipinya, seperti halnya air mataku juga.
Aku tahu, aku telah banyak mengecewakan Ayah. Sementara kakak-kakakku sudah
sukses di rantau, aku masih menganggur di rumah. Tapi aku tahu, Ayah mengerti
bahwa aku memilih tetap di rumah agar bisa menemani dan merawat Ayah-sesuatu
yang tak bisa dilakukan oleh kakak-kakakku.
Aku tahu, Ayah mengerti banyak hal tentang diriku, jauh lebih banyak dari yang
aku kira.
Dan pagi ini ketika kami berjalan keluar rumah untuk bersalam-salaman dengan
tetangga kompleks, terdengar rebut-ribut. "Ada apa ini?" tanya Ayah. Pak RT
segera menghampiri kami dan menjelaskan, "Kemarin malam rumah Haji Surya
dirampok, dan perampoknya sudah tertangkap. Ternyata si Amirudin dan Bondan.
Mereka babak belur dihajar warga. Kita harus cepat bantu mengamankan mereka."
Aku terdiam lama sekali, sementara Ayah menatapku. "Bukankah mereka
teman-temanmu?" bisiknya.
Aku tertunduk. Ah, ya Allah, seandainya aku tergoda untuk ikut dalam perampokan
itu...
Malam itu aku memang tidak pergi ke pos kamling tempat kami bertiga janjian.
Aku...pergi ke rumah seorang teman. Membawa suatu misi yang sangat berat untuk
kulakukan: menawarkan gitarku. Yah, meskipun sudah butut, tapi gitar itu
sebetulnya mahal dan sudah jarang di pasaran. Gitar itu adalah hadiah dari ibuku
menjelang kelulusan-beliau membelikannya empat tahun lalu sebelum terkena sakit
jantung dan meninggal. Karena temanku sudah lama mengincar gitar itu, dia setuju
untuk membeli gitar kesayanganku dengan harga sejuta.
Kini gitar itu sudah tiada. Dan Ayah tahu, aku begitu berat untuk melepasnya.
Aku menginginkan gitar itu ada di sampingku seperti Ayah selalu menginginkan
sorban impiannya itu. Namun bagiku, keinginan Ayah adalah yang terpenting, dan
Ayah tahu itu...
Lebaran itu adalah lebaran paling berkesan dalam hidupku. Sekarang Ayah telah
tiada, namun aku bersyukur telah memberinya hadiah lebaran terindah yang pernah
diinginkannya. Read more "Cerpen: Sorban Buat Ayah » Annida Online..."
Kara
Setelah salah seorang anggota pendiri, Kim Sunghee keluar pada tahun 2008, Kara sukses dengan "Honey" yang sampai di urutan nomor satu tangga lagu ಒರೆಅ.
Penampilan pertama
Mereka ditampilkan pertama kali dalam acara M! Countdown, 29 Maret 2007, membawakan lagu "Break It". Dari album perdana mereka, The First Blooming, dibuat dua buah video musik, "Break It" dan "If U Wanna". Album kedua mereka dijadwalkan pada Maret 2008, namun akhirnya dibatalkan. Salah seorang anggota, Kim Sunghee tiba-tiba mengundurkan diri. Ia gagal dalam tes masuk perguruan tinggi dan diminta kedua orang tuanya untuk berhenti. Sebagai akibatnya, album kedua Kara dibatalkan, dan dimulai audisi untuk memilih anggota baru.
Dua anggota baru didapat dari hasil audisi, Gu Ha Ra dan Kang Ji-young. Kembalinya Kara sebagai berlima ditandai penampilan mereka di M! Countdown membawakan lagu "Rock U", 24 Juli 2008. Ketika masih berempat, Kara ditampilkan sebagai penyanyi wanita yang dewasa. Namun setelah menjadi berlima, Kara diubah menjadi grup yang lincah. Masih pada bulan yang sama, mereka merilis album EP pertama diikuti singel digital "Good Day: Season 2" (13 Oktober 2008) yang merupakan pembuatan ulang lagu berjudul sama dari EP mereka.
Singel nomor satu: "Honey"
Pada akhir Januari 2009, DSP Entertainment mengumumkan sayembara di situs web mereka. Penggemar diminta memilih singel berikut dari Kara setelah "Pretty Girl".Pada penutupan sayembara, 2 Februari 2009, lagu "Honey" menerima suara terbanyak, 60% dari total suara.[11][12] Setelah merilis video musik "Honey" pada 16 Februari 2009, mereka tampil dalam acara Music Bank di KBS (13 Februari 2009), diikuti album mini pada 19 Februari 2009.
Dalam M Countdown di M.Net, "Honey" sukses sebagai singel nomor satu menyingkirkan "Gee" dari Girls' Generation.Lagu yang sama memenangi penghargaan "Mutizen" ("music netizen") di acara SBS 인기가요 ("Popular Songs").
Anggota
- Park Gyu Ri (박규리)
- Han Seung Yeon (한승연)
- Tanggal lahir: 3 September 1988 (umur 21)
- Koo Ha Ra (구하라)
- Tanggal lahir: 13 Januari 1991 (umur 19)
- Nicole (니콜)
- Kang Ji Young (강지영)
- Tanggal lahir: 18 Januari 1994 (umur 16)
Aku menggugat Akhwat & Ikhwan jilid 1
JILID 1
Panas terik matahari, bersinar. Terlihat bayang-bayang fatamorgana didepan
aspal yang aku lewati. Panas sekali. Angkot yang aku tumpangi pun, malaju dengan
kecepatan yang sedang. Bagaikan menikmati hawa panas yang menyengat kulit.
Apalagi aku, dengan jilbabku ini. Keringat sudah dari tadi mengalir deras ditubuhku.
Tetapi, karena aku memakai pakaian yang berlapis. Dengan jilbab yang mengurai
lebar dan besar. Sehingga mungkin keringatku tertahan. Dan tidak sampai membuatku
menjadi terlihat sebagai pepesan akhwat. Tetapi, tidak sedikit pula keringat yang
mengalir deras diwajahku. Beberapa kali orang melihatku. Mungkin, mereka berfikir
panas-panas kok pakai jilbab, besar pula. Tak seberapa lama, benar juga pikirku.
Seseorang ibu melihatku dengan penuh tanya.
Ibu itu mengatakan “Mbak, apa nggak gerah! Pakai jilbab yang besar seperti itu?”
Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ibu itu hanya terlihat dengan
senyumnya. Entahlah, senyuman apa yang diberikan ibu itu kepadaku. Mungkin
senyuman rasa kasihan, karena keringat diwajahku terus mengalir deras. Tapi aku tak
perduli.
Cuaca panas inilah yang menjadi pembenar. Untuk melanggar aturan-aturan
yang telah ditetapkan oleh sang Al Haq. Dengan berbagai alasan, banyak wanita yang
enggan atau tidak mau memakai jilbab. Sungguh ironis dalam sebuah agama terbesar
di Negara ini. Lucu sih, alasan tidak memakai jilbab karena cuaca dinegara ini yang
bersifat tropis. Padahal, di Arab. Cuacanya tidak kalah panasnya, bahkan lebih panas
dibandingkan Negara ini. Tetapi toh, tidak menyurutkan para wanita yang berada di
Arab untuk berjilbab.
Panas tetap menyertaiku dalam sebuah mobil angkot yang sangat pengap. Tak
jarang, bau keringat pun menyengat. Entah itu bau keringat siapa. Supir angkot,
kenek, atau bahkan penumpang lain. Yang penting aku tidak merasa tubuhku berbau.
Meskipun aku berjilbab. Aku tidak ingin tubuhku berbau badan yang tidak enak.
Tetapi tetap aku juga tidak mau tubuhku harum ditempat yang tidak semestinya. Aku
tidak mau dianggap sebagai wanita murahan dalam agamaku. Apalagi dituduh sebagai
wanita nakal karena memakai wewangian bukan pada tempatnya.
Angkot tetap melaju pada setiap detik hawa panas yang menyengat aspal.
Memang berat hari ini. Tetapi aku harus tetap datang dipertemuan. Beberapa kali aku
diundang, tetapi aku sering ada acara lain. Maka ini saatnya aku harus menyempatkan
untuk datang di teman-teman LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Hembusan angin
yang keluar dari jendela angkot. Membuatku sedikit merasa nyaman.
Hem, sampai juga akhirnya! Ucapku dalam hati.
Aku turun dari angkot. Dan berjalan menuju masjid kampus. Pusat para kaderkader
dakwah kampus yang akan berkumpul. Terlihat sudah banyak akhwat dan
ikhwan yang berkumpul.
“Assalamualaikum!” Salamku.
“Walaikumsalam! Masuk Ukh.” Sambut Ukhti Erni dengan senyum. “Alhamdulillah
anti datang juga!” ucapnya lanjut.
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. “gimana, sudah dimulai?”
Tanyaku basa-basi.
“Iya, baru saja dimulai!”
Setelah itu kami menyimak pemapaparan yang diberikan oleh Akhi Samsul, ketua
LDK. Memang, akhir-akhir ini aku tidak terlelalu aktif dalam kepengurusan LDK.
Karena banyaknya amanah diluar membutuhkan waktu yang sangat besar. Dan tak
lupa juga, skripsiku yang menggantung karena banyaknya kegiatan. Akhirnya aku
memutuskan untuk memfokuskan beberapa hal yang aku anggap penting. Seperti,
skripsiku, dan juga amanah diluar.
Hijab yang menutupi saat syuro’. Tidak menurunkan kualitas para ikhwan dan
akhwat untuk bisa memberikan kontribusinya dalam dakwah. Mereka sangat
semangat dengan cara-cara seperti ini. Bahkan memberikan ruang tersendiri bagi para
akhwat. Atau bisa juga disebut. Ruang privacynya para akhwat. Jadi benar-benar
sangat menyenangkan. Karena dengan begitu, kami tidak terlihat bercampur baur
dengan para ikhwan. Sehingga dengan bebas mengutarakan pendapat, tanpa harus
malu dilihat para ikhwan.
“Setiap dari kita, harus bisa memberikan kontribusi yang jelas terhadap dakwah kita!
Maksudnya adalah, setiap anggota harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada
para mahasiswa-mahasiswa. Jadi agar kita tidak terlalu dibilang eksklusif oleh
mereka. Terkadang julukan itu, membuat gerakan dakwah kita menjadi terhambat.
Maka dari itu, ana harap. Setiap kader LDK, dapat bersosialisasi dengan mereka.
Minimal menjelaskan beberapa hal tentang kegiatan LDK. Dan, maksimal kita dapat
mengajak mereka untuk dapat ikut serta berdakwah!” Ucap Samsul dengan panjang
lebar. “Baik, ada yang perlu ditanyakan?” Lanjutnya.
“Begini, Akh. Ana mempunyai beberapa trik-trik untuk membuat statement kepada
mahasiswa yang merasakan keeksklusifan kita! Seperti halnya, menyebarkan bulletin
kepada mahasiswa-mahasiswa dengan tema yang diangkat. Adalah program-program
LDK. Jadi kita tidak usah repot-repot untuk mendatangi mereka!” Ucap, Rofiq.
“Hem, boleh juga! Ada masukan lain, mungkin? Dari para Akhwat!” Ucap Samsul.
“Assalamualaikum!” Ucapku. Yang akhirnya disambut dengan jawaban salam para
peserta syuro’. “Kalau menurut ana, lebih baik memberikan pendekatan kepada
mereka. Dengan cara ikut bergabung dengan mereka, tentunya jika tidak menyimpang
dari syari’at. Tetap! Karena pada dasarnya, mahasiswa-mahasiswa yang menganggap
kita eksklusif, karena kita sangat jarang sekali berkumpul dengan mereka. Sehingga
statement seperti itu muncul dipermukaan, karena perilaku kita sendiri. Ana memang
merasakan benar, bahwa banyak ikhwan atau pun akhwat. Yang merasa lebih enjoy
bergabung dengan halaqoh mereka, dari pada dengan mahasiswa yang bukan dari
halaqoh mereka. Ini merupakan bentuk ketimpangan yang mendasar. Yang akhirnya
menjadikan para mahasiswa merasa bahwa para kader LDK. Mempunyai kehidupan
sendiri. Atau dalam kata lain, mengasingkan dari kehidupan mahasiswa.” Aku sedikitmenghela nafas. “ana rasa jika ingin tetap terlihat eksis dalam dakwah kita.
Seharusnya, kita malah harus punya objek dakwah yang jelas. Atau dalam kata lain.
Bahwa kita tidak mengesampingkan objek dakwah lain, meskipun kita sudah
mempunyai objek dakwah! Seperti halnya, jika kita berada dilingkup kampus. Maka
objek dakwah yang fital, adalah para mahasiswa-mahasiswa yang belum tersentuh
oleh dakwah. Ini merupakan sebuah tantangan besar bagi kader dakwah kampus! Jadi
kader dakwah kampus, tidak hanya diluar saja mereka bisa berdakwah. Seperti
mengajar ngaji didesa-desa kumuh, bakti social, dll. Tidak hanya seperti itu. Tetapi
seharusnya kita harus membenahi juga rumah kita sendiri, dalam artian kampus kita
ini. Karena, antum dan anti lihat saja sendiri. Bagaimana kondisi akhlak dan akhidah
kampus kita. Jadi ini merupakan sebuah ladang dakwah bagi kita juga!”
Sejenak, peserta kami pun terdiam.
“Wah, Ukhti! Jarang ikut syuro’ tapi selalu dapat memberikan penjelasan yang bagus”
Bisik ukhti Erni.
Aku hanya tersenyum, sambil berkata. “Ini sanjungan apa sindiran! Kalau sanjungan,
biasanya Ali Bin Abi Tholib itu membalasnya dengan melemparkan sandalnya. Nah
kalau ini sindiran, mending nggak usah disindir gitu! Ana datang aja sudah merasa
kesindir.” Bisikku ke ukhti Erni.
“Hhihihi…!” Ukthi Erni sambil memegang kepalanya, takut dilempar sandal.
“Hem iya, bisa juga seperti itu! Syukron Ukhti atas sarannya. Ana rasa, saran anti
boleh juga!” Ucap Samsul.
Syuro’ diakhiri dengan beberapa pernyataan untuk dapat memberikan kesan
yang lebih baik kepada para mahasiswa. Tidak terlalu terlihat mengasingkan diri dari
kehidupan mahasiswa lainnya. Mau ikut bergabung dengan kegiatan-kegiatan
mahasiswa lainnya selama tidak keluar dari izzah para kader dakwah kampus. Dan
beberapa hal keputusan yang lainnya. Intinya, kader dakwah kampus harus mampu
dapat memberikan kontribusi yang jelas baik dan menjadikan mahasiswa lebih senang
bergaul dengan aktivis dakwah kampus ketimbang aktivis yang tidak jelas
akhidahnya.
***
Aku rebahkan tubuhku diatas kasur busa. Aku rasakan kenyamanan. Sudah
dari pagi tadi, aku belum istirahat sama sekali. Capek sekali, tubuhku terasa sangat
pegal-pegal sekali.
“Zah!” suara Ummi membangunkanku dari rebahanku.
“Iya, Mi! Masuk aja” ucapkku
Ummi membuka pintu. Senyum pun mengembang, dalam wajah Ummi yang begitu
teduh. Nikmat sekali.
“Zah, sudah makan belum?” tanya Ummi sambil membelai lembut rambutku.“Zah belum lapar, Mi!”
“Hem! Nggak boleh seperti itu, nanti anti sakit!” ucap Ummi lembut.
“Nggak kok, Mi!”
“Nggak, pokoknya anti harus makan sekarang! Ummi, sudah buatin makanan
kesukaan anti!” Ucap Ummi agak memaksa. Tapi tetap, dengan kelembutan.
“Ya udah. Zah mandi dulu! Nanti selesai mandi baru makan” ucapku dengan manja.
“Hem. Zah, kenapa nggak pakai mobil sendiri! Anti kan bisa lebih nyaman! Dan
nggak terlalu capek!” Ujar Ummi.
“Nggak, dulu Mi! Zah pengen, nanti aja kalau udah mau punya suami. Baru, Zah akan
bawa mobil sendiri.” Kataku menggoda.
“Iya, Ummi juga pengen Zah cepat-cepat menikah! Apa mau dicarikan?” Goda Ummi
balik.
“Ah, Ummi. Nggak dulu, nanti aja! Zah masih ingin menyelesaikan sesuatu yang
harus diselesaikan dahulu!” Jawabku lugas. “Mi, Zah mandi dulu!” Ucapku sambil
mengambil handuk di lemari.
***
Segar, tubuhku serasa kembali bugar. Air benar-benar memberikan kehidupan.
Tidak mungkin aku pungkiri, bahwa air memberikan perbaikan. Sungguh nikmat yang
tidak dapat aku ingkari.
Aku langkahkan kaki ini. Pada sebuah meja makan, yang sudah terisi dengan
masakan-masakan menggoda untuk segera dinikmati. Kenikmatan yang terus menerus
membuatku menjadi bertambah keimanan. Tapi entahlah, ini sebuah kenikmatan atau
ujian yang diberikan Allah kepadaku.
“Gimana! Enakkan?” tanya Ummi. Sambil menemaniku makan.
“Enak banget Mi! Tapi, Zah nggak mau sering-sering makan-makanan enak Mi!”
Ucapku sambil melahap ayam bakar berbumbu pedas.
“Loh, kenapa?” Ummi terlihat heran.
“Iya Mi. Nanti bisa-bisa Zah ketagihan! Masa aktivis dakwah makannya harus enakenak
terus?” Ucapku sambil tersenyum.
“Hem, Anti ini gimana. Aktivis dakwah itu seharusnya makanannya harus yang
bergizi! Biar nggak kelelahan dalam berdakwah. Malahan, seharusnya wajib bagi
aktivis dakwah untuk makan enak!” Jelas Ummi, sambil tersenyum.
“Tapi nanti malah nggak bisa merasakan penderitaan, apalagi nanti nggak zuhud!”
Ummi tersenyum penuh arti. Wajahnya terlihat sangat gembira. “Zah, Anti sudah
menjadi wanita yang dewasa! Ummi senang mendengar apa yang keluar dari mulut
anti!”
“Ah, Ummi. Zah ini masih kecil! Masih suka bermanja-manja sama Ummi! Masih
suka dengan boneka-boneka lucu. Zah, tetap masih kecil dihadapan Ummi.” Ucapkku
sambil terlihat manja.
Ummi hanya tersenyum. Belaian lembut terasa menyejukkan, saat tangan Ummi
menyentuh rambut dan kepalaku.
Aku hampir menyelesaikan makan malamku. Segelas air putih, membasahi
tenggorakanku. Hingga menurunkan semua sisa-sisa makanan yang sedang nangkring
ditenggorakanku. Nikmat sekali. Benar-benar, nikmat mana yang harus aku dustai.
Selesai makan aku langsung menuju kamarku. Sudah jadi kebiasaanku. Jika
selesai makan malam, berwudhu, dan langsung melantunkan ayat-ayat suci. Serta
mencoba mengerti tentang apa yang terkandung dalam ayat-ayat suci Al Qur’an. Dan
berusaha menghayati, serta mengamalkannya. Setelah itu, tak lupa membaca buku.
Buku-buku yang bisa memberikan tingkat pengetahuan dan keimanan. Jika semua itu
sudah aku kerjakan. Maka aku harus menyelesaikan tugasku selanjutnya, Allah
memberikan malam untuk dijadikan sebagai waktu istirahat.
***
Pagi begitu cerah. Bunga-bunga terbasahi oleh embun-embun pagi. Nyanyian
burung-burung yang hinggap dibeberapa ranting pepohonan. Menjadikan pagi ini
begitu komplit. Tak lupa teh hangat, yang akan selalu menemaniku dalam setiap pagi.
Tugas-tugas yang seharusnya aku kerjakan, sudah aku selesaikan. Mulai dari
membaca Al ma’tsurat setelah subuh setelah itu tilawah, olah raga pagi, dan yang
terakhir. Menikmati pagi dengan secangkir teh hangat, tak lupa ditemani dengan
berbagai macam kue kering sebagai pelengkap.
“Zah. Anti nggak kuliah hari ini?” Sapa Ummi, yang terlihat baru menyelesaikan
tilawahnya.
“Kayaknya sih, nggak Mi! Skripsi Zah kan sudah selesai. Tinggal sidangnya aja!
Emang ada apa Mi?”
“Oh nggak! Ummi hanya mau ngajak Zah jalan-jalan aja! Kayaknya dibutik
muslimah dekat rumah ada jilbab yang bagus-bagus. Ummi mau cari beberapa motif
jilbab yang bagus! Anti mau ikut nggak?” jawab Ummi. Promosi.
“Hem, Ummi gimana sih. Zah kan pengen hidup zuhud! Tidak bermegah-megahan.
Jilbab Zah kan udah banyak!” Jelasku.
Ummi tersenyum. Masih seperti senyumnya tadi malam. “Alhamdulillah, anakku
benar-benar sudah dewasa! Sayang, bukan berarti hidup zuhud itu mengesampingkan
keindahan. Bukankah Allah paling suka dengan keindahan! Dan memang, bukan
berarti Ummi membeli jilbab itu karena keinginan semata. Tetapi lebih didasarkan
kebutuhan Ummi sendiri! Beberapa jilbab Ummi kan sudah banyak yang kekecilan.
Tahu sendirikan! Ummi semakin gemuk”
“Ok Mi! Zah ikut”
Ummi mengangguk. “Nanti, jam 9 kita berangkat!” Ummi bergegas meninggalkanku,
menuju dapur. Untuk membantu Bi Iyem.
Banyak beberapa akhwat yang terjebak dengan trend busana muslim. Memang kita
tidak boleh mengesampingkan keindahan. Tetapi keindahan itu pun tidak boleh
terlepas dari kebutuhan kita sendiri! Apalagi budaya shopping bagi wanita ammah
pun menjadi trend yang barbeda bagi para akhwat. Kalau orang ammah shoppingnya
di mall, tapi kalau akhwat shoppingnya di butik muslimah. Lalu, apa bedanya?
Pikirku dalam hati.
Suasana pagi barangsur-angsur pergi. Meninggalkan aku yang sejak tadi bersama
pagi. Aku biarkan pagi, pergi untuk datang kembali. Bersama keindahan yang
diberikan kepada umat seisi bumi. Kubiarkan pagi pergi. Agar bisa memberikan
keindahan pagi hari di belahan bumi yang lain. Bergegas aku menuju kamar mandi.
Aku hampir lupa, punya janji menemani Ummi ke butik muslimah.
“Zah, gimana sudah siap belum?” Teriak Ummi diluar kamarku.
“Iya Mi. Sebentar! Ini lagi membetulkan jilbab!” Sahutku.
“Ok, Ummi tunggu dibawah ya!”
“Ya..!” jawabku singkat.
Aku keluar dari kamar. Bersama jilbabku yang tetap membalut tubuhku dalam
balutan kemesraan perlindungan dari mata-mata jahil yang melihatku. Selain jilbab
adalah perintah dari agamaku. Jilbab merupakan sebuah pakaian yang memang lebih
nyaman untuk dikenakan dalama acara apapun. Karena jilbab adalah pakaian
pembebasan wanita dari pria. Dan wanita berjilbab adalah wanita yang terbebaskan
dari pria. Dan jilbab adalah pakaian yang bebas dan merdeka.
“Ok Mi! Zah sudah siap.” Ucapku, saat Ummi sedang duduk santai diruang depan.
Menungguku.
Kami pun berangkat berdua.
Setiap jalan yang aku lewati. Selalu ada saja pandangan yang tertuju pada
kaum dhuafa yang berada diperempatan lampu merah. Ada kalanya, juga
perkampungan kumuh yang berjejer. Sangat mengherankan, bagi negeri yang disebut
gemah ripah ini. Mercedez melaju dengan nyaman disetiap jalan. Mang Kujang,
supirku. Mengendarainya dengan santai. Hem enak memang, saat menaiki mercedez
ini.Ya Allah, jangan lupakan aku dengan derita umatmu yang selalu bercucuran
keringat saat naik angkot. Bagaikan ikan asin yang dijajar rapi. Entah kenapa,
tiba2 aku terkaget dari lamunanku. Sesosok yang aku kenal, terlihat berjalan kaki
disebuah desa kumuh. Apa benar dia! Benar nggak sich? ucapku dalam hati.
Bingung. Oh benar, dia! Iya tidak salah lagi, Akhi Khalid! Aku melintasinya. Aku
tersenyum sendiri. Tersenyum dengan kegembiraan yang tiada tara. Ikhwan itu yang
membuat hatiku selalu berbunga-bunga. Ikhwan itu yang membuat jantungku selalu
berdetak tidak karuan saat aku berbicara dengannya. Aku tidak berani menatap
matanya, bahkan untuk melihat tubuhnya pun. Aku tidak berani. Dan sekarang pun,
jantungku berdetak tak beraturan. Entah kenapa ini. Selalu seperti ini jika aku bertemu
dengannya. Memang akhir-akhir ini aku tidak pernah bertemu dengan dia, mengingat
kesibukanku dan kesibukannya yang semakin padat.
Entah kenapa, aku seperti berbunga-bunga saat melihatnya. Apalagi saat dia
berjalan diperkampungan kumuh itu. Aku bagaikan melihat seorang mujahid, yang
melangkah pasti dalam barisan tentara Allah. Seorang penjuang yang terus
mendambakan surga ketimbang dunia. Seorang yang tiada hentinya berdakwah dalam
arus ketidakpastian dalam materinya. Seorang yang merasa tidak pernah kekurangan
dalam segala hal selain pahalanya. Bahkan untuk urusan dunia sekalipun. Dia tidak
pernah terlihat menginginkannya. Ya Allah, teguhkanlah sikap dia tetap dijalanmu!
Hadiahkan bidadari kepada dia didunia maupun disurga-Mu. Aku benar-benar
bangga terhadap dia. Aku tidak akan layak untuk bisa mendampinginya. Sungguh
seorang ikhwan yang begitu tegar dalam perjuangan-Nya. Subhanalah. Ucapku lirih
dalam hati.
“Zah, anti kenapa? Dari tadi kok senyam-senyum sendiri!” Ummi mengagetkan
lamunanku.
“Nggak kenapa-napa kok Mi!” jawabku enteng.
“Ah, masa nggak ada apa-apa? Pasti ada yang menyenangkan hati, Zah?” selidik
Ummi.
“Nggak kok! Zah nggak apa-apa kok Mi!”
“Hem, Ummi tahu. Pasti ada salah satu ikhwan yang sudah masuk kedalam hati Zah!”
Ucap Ummi terlihat pasti.
“Nggak Mi!” Jawabku malu.
“Hehe….. nggak usah malu. Kalau memang sudah ingin menikah! Bilang sama Abi
atau Ummi. Insya Allah tidak akan ada ikhwan yang akan menolak dinikahkan
dengan anti!” Ummi terlihat serius. “Mana ada yang menolak dinikahi seorang
akhwat yang cantik begini, apalagi hobinya tilawah dan membaca tafsir!” Goda
Ummi.
“Ummi..!” Jawabku sewot, dan terlihat manja. Ummi hanya tersenyum, sambil
memeluk kepalaku.
Aku tidak akan sepadan dengan Ikhwan yang aku impikan itu. Hanya untuk melihat
pun aku tidak akan sanggup. Apalagi memilikinya. Sungguh sangat mustahil!
Gumamku dalam hati.
***
“Mi, itu bagus juga! Warnanya cocok dengan jilbab yang ini!” Usulku sambil
mengambil contoh beberapa jilbab.
“Iya, yang itu terlihat bagus. Bahannya halus, cocok memang. Warnanya juga nggak
terlalu mencolok!” Jawab Ummi.
“Hem… iya! Ya sudah Mi, beli yang itu aja!”
Ummi mengangguk tanda setuju. “Mbak, yang ini yah!” Ucap Ummi kepada pegawai
butik itu.
Saat kami akan bergegas keluar butik. Aku melihat seorang akhwat, yang
sedang memilih-milih pakaian. Jelas aku melihatnya. Dan benar dia adalah temanku.
Ukhti Ria.
“Assalamualaikum” Salamku, saat mendekati akhwat itu.
“Eh… Walaikumsalam!” Jawabnya sambil tersenyum.
“Wah. Lagi belanja yach, Ukh?” Tanyaku
Ria hanya tersenyum, sambil menganggukan kepalanya. “Anti lagi shopping juga?”
“Oh nggak, lagi nganter Ummi!” Ucapku. Sambil telunjukku menunjuk kearah
Ummi.
“Oh!” Ria hanya tersenyum. Sambil melambaikan salamnya kepada Ummiku.
“Ok. Ana balik dulu yah Ukh!” Ucapku sambil menyalami dan memeluknya.
“Assalamualaikum” salamku. Sambil berjalan menuju Ummi.
“Walaikumsalam.”
***
Entah kenapa. Aku terus mengingat Akhi Khalid. Bayang-bayangnya
menghiasi alam bawah sadarku. Sejak aku melihatnya berjalan. Aku semakin
menganggumi sosok Khalid. Sosok ikhwan yang tegar, dalam balutan singgah sana
keimanan. Meskipun terlihat sangat kekurangan materi, tetapi sosok ikhwan yang satu
ini. Tidak pernah meminta sesuatu hal yang dapat merendahkan harga dirinya. Aku
sangat bangga bisa bekerja sama dengannya.
Hari ini aku benar-benar tidak ada kesibukan. Memang untuk hari ini aku
sudah ijin kepada beberapa teman-temanku. Hari ini aku ingin beristirahat total. Aku
tidak ingin disibukkan oleh kegiata-kegiatan dakwahku dulu. Bukannya karena aku
futur. Tidak, aku tidak futur. Tetapi aku sedang kedatangan tamu bulanan.
Seperti persoalan lainnya, akhwat juga manusia. Yang merasakan ketidak sehetan, jika datang
waktunya. Hanya untuk saat seperti ini. Dan hanya satu hari ini saja.
“Tluutt…tluutt..” dering hpku.
No tak dikenal! Siapa yach? Tanyaku dalam hati. Aku ambil hpku, “Hallo…
Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam!” Ucapnya.
“Ini siapa yah?” Tanyaku penasaran.
“Hehehe…. Sayang. Masa lupa dengan aku!” Ucapnya
Siapa nich! Pikirku jengkel. “Ini siapa?” Ucapku ketus.
“Wah… benar-benar aku sudah dilupain yah! Ini aku, Deryl!” Ucap si Penelphon
Ha.. Deryl! Anak keluarga Wiryo. Anak itu lagi! Huh.. Gumamku dalam hati. “Oh
Deryl! Kapan datang?” Tanyaku basa-basi.
“Aku datang dari Australi kemarin! Wah aku kangen berat nih sama kamu!”
Huh… nih orang. Apa nggak pernah diajari akhlak sama sekali!
“Oh” Jawabku datar.
“Eh, gimana jalan yuk! Aku pengen jalan-jalan nih. Kamu mau kan!”
“Maaf aku nggak bisa!” Jawabku. Bingung. Bagaimana ngomong masalah hijab
kepada dia.
“Ah kamu, dari dulu tetap begitu! Kalau gitu aku kerumah kamu aja yah?”
“Maaf aku lagi pengen sendirian! Ok yah Ryl aku udahan dulu! Wassalam” Ucapku
sambil mematikan tombol HPku.
Deryl, anak keluarga Wiryo. Seorang pengusaha yang sukses. Tapi sayang
tidak diimbangi dengan kesuksesan mendidik anak-anaknya. Mulai dari SMA dulu,
Deryl selalu ingin mendekatiku. Pengen mengajak jalanlah, pengen curhatlah. Tapi
alhamdulillah, Abi dan Ummi selalu menjaga hijabku dengan setianya. Untunglah
orang tuaku tidak menginginkan harta yang berlimpah. Materi yang banyak. Kalaulah
orang tuaku menyukai dunia dan isinya. Materi juga harta benda. Pastilah dengan
segera aku dinikahkan dengan, Deryl. Tapi, untunglah orang tuaku termasuk prajuritprajurit
dakwah. Alhamdulillah.
Dari kekayaanku saja. Aku sudah sangat bersyukur. Beberapa usaha Abi sudah
sangat maju. Hampir setara dengan keluarga Deryl. Perusahaan-perusahaan Abi
bahkan sudah menerapkan system management yang sangat bagus. Tidak seperti
perusahaan-perusahaan yang lainnya. Dengan system management Syari’ah itulah, Read more "Aku menggugat Akhwat & Ikhwan jilid 1..."
Rabu, 03 Maret 2010
SURAT 70. AL MA'AARIJ
SURAT 70. AL MA'AARIJ
| Terjemahan | Text Qur'an | Ayat |
|---|---|---|
| Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, | سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ | 1 |
| Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, | لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ | 2 |
| (Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. | مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ | 3 |
| Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. | تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ | 4 |
| Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. | فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلا | 5 |
| Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). | إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا | 6 |
| Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi). | وَنَرَاهُ قَرِيبًا | 7 |
| Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. | يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ | 8 |
| Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan), | وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ | 9 |
| Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, | وَلا يَسْأَلُ حَمِيمٌ حَمِيمًا | 10 |
| Sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. | يُبَصَّرُونَهُمْ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ | 11 |
| Dan istrinya dan saudaranya, | وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ | 12 |
| Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). | وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ | 13 |
| Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. | وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ | 14 |
| Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, | كَلا إِنَّهَا لَظَى | 15 |
| Yang mengelupaskan kulit kepala, | نَزَّاعَةً لِلشَّوَى | 16 |
| Yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama). | تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّى | 17 |
| Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. | وَجَمَعَ فَأَوْعَى | 18 |
| Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. | إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا | 19 |
| Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, | إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا | 20 |
| dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, | وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا | 21 |
| kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, | إِلا الْمُصَلِّينَ | 22 |
| yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, | الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ | 23 |
| dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, | وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ | 24 |
| bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), | لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ | 25 |
| dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, | وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ | 26 |
| dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. | وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ | 27 |
| Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). | إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ | 28 |
| Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, | وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ | 29 |
| kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. | إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ | 30 |
| Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. | فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ | 31 |
| Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. | وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ | 32 |
| Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. | وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ | 33 |
| Dan orang-orang yang memelihara salatnya. | وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ | 34 |
| Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. | أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ | 35 |
| Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, | فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ | 36 |
| Dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok? | عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ | 37 |
| Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan?, | أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ | 38 |
| Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). | كَلا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ | 39 |
| Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. | فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ | 40 |
| Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. | عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ | 41 |
| Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, | فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ | 42 |
| (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), | يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الأجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ | 43 |
| dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. | خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ | 44 |