Cerpen: Aku Kupu-kupu Cokelat 2» Annida Online
Aku Kupu-kupu Cokelat
Diposting: Senin, 28 September 2009 / 15:41:49 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen
Dahulu aku beranak istri di hutan sana. Anakku bersayap hijau dengan mata hitam
berbintik putih di kedua sayapnya. Garis-garis merah sepanjang tepi. Istriku
bersayap kuning bermata putih dilingakari warna hitam tipis. Aku kupu-kupu
beruntung bewarna hijau yang kuwariskan kepada anakku.
Aku punya banyak saudara di sana. Kami puluhan, kami ratusan, kami ribuan, kami
jutaan. Terbang dari satu pohon ke pohon, dari satu dahan ke dahan. Dan yang
paling kami suka dari satu bunga ke bunga. Kami akan berbahagia berbagi madu.
Bunga juga tidak kami rugikan. Kami membantu penyerbukkannya dari satu bunga ke
bunga. Kaki-kaki mungil kami, mulut-mulut kami, juga melakukannya. Tapi entah
bingal? Entah kami terseret di tanah kelahiran. Barangkali terlalu kejam, atau
lebih tepatnya penganiayaan. Bukankah kami makhluk Tuhan? Bukankah kami punya
manfaat? Setiap yang diciptakan tiada yang sia-sia, namun siapa mendengar ucapan
penderitaan. Aku hanya bangsa kupu-kupu, juga mereka saudaraku. Barangkali
memang bingal, yang jelas bukan kami.
"Apakah mereka tak punya lahan, Mas," tanya istriku sehabis bangkit dari tidur
di balik daun kelapa. Suara mesin membangunkannya. Aku tahu istriku marah.
Sebagai pasangan aku mengenalnya, walau bangsa kami sering gonta-ganti pasangan,
tapi tidak bagi kami.
"Mereka punya lahan, Ma. Luas lagi."
"Lalu kenapa mereka bingal?"
"Mereka hanya mencari kesenangan, kesenangan seperti kita."
"Kesenangan seperti apa yang Mas maksud. Kesenangan mereka mengganggu kesenangan
kita! Kesenangan mereka meluluhkan tanah lahir kita!"
"Jangan buruk sangka, Ma dan ki...." Aku terbang mendekati istriku,
mengajak ke dalam bunga, mencari madu. Tapi. Ah. Dia sudah memotong kataku.
"Siapa yang buruk sangka. Mereka buas sudah fakta. Mereka tak pernah puas
dengan jerit kita. Mereka tak mengenal sosial, tapi katanya mereka orang yang
bersosial."
"Maaama!"
Siapa yang tidak kecewa, tidak sedih, tidak menangis kalau tanah lahirnya harus
diusik. Dengan alasan apa mesin-mesin itu masuk ke negeri kami? Mesin tanpa akal
yang dijalankan makhluk berakal. Haruskah ini tanda bahwa kami harus angkat kaki
dari rumah sendiri? Rumah yang juga dihunyi oleh para beruang madu, beruang
bermoncong putih, simpai kuning, kera berbuntut lebar. Semua serupa petasan yang
mengangkasa ke langit kelam. Perbuatan yang menyisakan bahwa air mata itu
kering.
Mesin itu meluluhlantakkan pohon-pohon, bunga-bunga tempat kami mencari madu,
daun-daun tempat kami bernaung di malam sunyi, di malam di mana kami mendengar
sajak-sajak jangkrik, sajak ayam di waktu fajar. Malam pada akhinya berubah
menjadi kebisingan. Tak ada sahabat yang melantunkan sajak. Semua kami harus
terbirit-birit menghindari kekerasan yang tak lebih adalah penjajahan.
Mesin-mesin itu semakin jauh masuk ke negeri kami, negeri surga, negeri
tempat bernaung kupu-kupu. Mesin itu mempunyai rantai di kedua sisi matanya.
Bunyinya memekakkan telinga, menjadikan negeri kami bagai negeri hantu. Di
belakangnya mesin-mesin sebesar gajah punya moncong, punya sendok, berkaki
melata.
Kayu-kayu menjulang langit, roboh. Tak ada alasan mengapa kami, rumah
kami, jasad kami harus ikut musnah. Padahal tak ada salah, tak pernah mengganggu
manusia. Kayu-kayu hanya tinggal pangkal, bunga-bunga tak lagi pernah mekar.
Mesin telah membuat kami menangis, sedang jasad kupu-kupu telah membuat kuburan
sendiri di bawah rerimbunan daun runtuh, di bawah ranting, di bawah bunga
tumbang. Mereka berkata kepadaku dalam batin."Adakah ini sebuah penyerahan pada
orang-orang kota mati? Kematian yang menyempurnakan kekekalan mereka. Kami hanya
ingin hidup tenang berbagi kasih sayang, rindu dan pertualangan. Kami belum
ingin mati, masih ingin berlayar ke dunia yang dicipatakan Tuhan. Kami makhluk
Tuhan yang baik hati, dari ulat menjelma kepompong, dari kepompong menjelma
kupu-kupu. Begitu kami menyucikan diri. Kupu-kupu hijau sampaikan pada
orang-orang kota mati "kami dicipta untukmu"." Benarkah mereka mau mendengar?
Kami sedang berhubungan dengan orang mati, hanya sebuah kesia-siaan. Barangkali
dunia kami tak dihanggap menarik lagi.
Hal: 2
Rabu, 03 Maret 2010
सर्पें AnNida
Label:
Hiburan