Cerpen: Aku Kupu-kupu Cokelat » Annida Online
Aku Kupu-kupu Cokelat
Diposting: Senin, 28 September 2009 / 15:41:49 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen
Penulis : Alizar Tanjung
"Aku mengepakkan sayap cokelat. Melewati malam memejamkan mataku di tonggak
listrik, di bawah lampu jalan, sungguh menjemukan. Pengembaraan yang seharusnya
tak terjadi harus dimulai.
Aku tak tahu, benar atau salah kedatanganku ke kota manusia, ke kota
orang sibuk, ke kota orang mati, ke kota budak manusia. Entah kota yang mana
yang sedang kudatangi pada pagi ini, saat embun belum turun dari dedaunan, saat
kokok ayam belum lama berhenti, saat pagi masih menyisakan dingin di sayapku.
Di kota ini aku menemui banyak gedung bercakar langit, seperti kota-kota
lain yang sudah kudatangi. Di bawahnya pohon-pohon palem sepanjang badan jalan,
ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar. Pohon palem itu sengaja cap
putih menindihnya. Di dalam taman gedung cukup tersedia ruang kosong.
Taman-taman kecil yang didesain sempurna. Barangkali ahli Eropa yang melakukan.
Tak kalahnya kolam renang biru langit juga tersedia setiap aku bertemu
gedung-gedung bercakar langit.
Di kota ini juga aku menemukan mobil-mobil mengkilat berbagai merk dan
corak; warna hitam, metalic hitam, silver, blue. Semuanya barang mahal yang
didatangkan dari negeri-negeri terkenal. Bukan dari negeri ini. Tak kutemui
pabrik milik sendiri yang mampu menghasilkan mobil secanggih-barangkali kalau
ada hanya sepersepuluh canggih dari mobil-mobil itu. Tapi. Ah, hampir aku
menubruk kaca spion mobil metalik hitam. Kumpulan mobil yang aku ceritakan. Aku
mengitari mobil itu dari ujung kepala sampai ke ujung kepala berulang kali.
Kukepakkan sayapku bewarna cokelat puluhan kali, ratusan kali, bahkan ribuan
kali. Aku bersyukur Tuhan memberikan warna cokelat. Kalau aku ungu, hijau,
kuning di kota ini tentulah aku ditangkap boca kecil. Aku dianggap sangat imut,
manis, dan menggelikan.
Anak kecil yang sedang duduk dalam mobil itu akan sadar langsung,
melihatku yang bewarna cerah. Sungguh, aku tak mau ditopleskan walau di rumah
bertingkat sekalipun, yang di sekelilingnya ada taman. Bagiku hidup adalah
kebebasan, kebebasan berapresiasi, kebebasan berkreasi. Aku beruntung menjadi
kupu-kupu cokelat.
Di kota ini aku juga menemukan selokan-selokan kumuh, sampah-sampah plastik lupa
didaur ulang, batok-batok kelapa mengapung berkecambah, semak-semak belukar
sepanjang bantaran kali yang kotor; ingin rasanya menutup hidung, tapi bagaimana
caranya, aku seekor kupu-kupu.
Aku meleset terbang sepanjang hiliran kali, perlahan kukepakkan sayap, kini
lebih lincah. Cahaya matahari sudah dingin di kedua sayapku. Di hiliran kali aku
melihat ibu-ibu sedang mencuci baju kemeja, celana panjang, kain, rok mini,.
Mungkin kota hanya menyediakan ini bagi mereka.
***
Sungguh sebab mengapa sayapku bewarna cokelat, sebab mengapa aku sampai di kota
orang mati? Bukankah tempatku di hutan belantara sana; tempat kupu-kupu kuning
berbintik-bintik hitam di kedua sayapnya bersemayam? Tempat kupu-kupu hijau
bercampur biru melingkar dengan titik hitam, serupa setetes air di kedua
sayapnya. Tempat kupu-kupu ungu bermata putih dengan lingkaran hitam di kedua
sayapnya. Padanya garis-garis memanjang bewarna hitam putih. Itulah yang hendak
kukisahkan.
Hal: 1
Rabu, 03 Maret 2010
सर्पें anNida
Label:
Hiburan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar