Rinai hujan masih terus membasahi senja, rona jingga tak terlihat, yang ada
hanya kelam. Sekelam hatiku yang mendung, yang sebentar lagi akan menumpahkan
air yang amat deras. Isak tangisku seperti halilitar yang menjerit seperti
kilatan cemeti malaikat. Hatiku tercabik-cabik. Senja ini, kelam sekelam cintaku
dan masa depanku.
Baru saja aku bertemu detik itu juga kau harus belalu. Mengapa secepat kilat jua
kau pergi, sayang?.
Kau bilang, cukup!. Ditengah deras hujan tadi siang. Lalu kau menagis, dan
memaki serta menghinaku. Aku tetap diam, tak masalah bagiku. Penghinaanmu
hanyalah ungkapan kesalmu terhadapku yang tak dapat berbuat apa-apa ketika orang
tuamu menayakan tentang kepastianku untuk menikahimu.
Aku sadar ketika kau berlalu, bahwa cinta tanpa pernikahan ibarat perahu
berlayar tanpa tepi. Terombang-ambing di tengah samudra luas dan selalu
berhadapan dengan badai-badai dosa yang tanpa bosan melanda. Aku tahu kau takut,
aku juga takut kita tenggelam dalam samudra gelap yang tak berdasar. Namun,
tahukah kau sayang? Menikah bukan mainan?. Menikah butuh kesiapan lahir dan
batin. Apa yang aku dapat berikan padamu, aku hanya punya cinta, sudah.!, tak
ada lagi selain itu. Bukankah kita tidak makan cinta?.
Katamu dasar hidup adalah cinta, sebab cinta akan mendatangkan kebaikan-kebaikan
yang lainnya. Aku setuju dengan pendapatmu itu. Tapi ini masalah kelangsungan
hidup. Aku ingin kita menikah cukup sekali seumur hidup.
Kau tetap memaksa dan aku tetap belum bisa. Entah, namun aku juga sadar sewindu
bukan waktu yang sebentar untuk menjalin sebuah rasa yang kuanggap sama
denganmu. Rasa cinta dan kebersamaan. Rasa yang dapat membuat aku menjadi
sempurna sebagai seorang laki-laki. Yang aku herankan hanya satu, mengapa aku
tak pernah siap untuk menikah?.
Ditengah rinai senja ini, aku menatapmu. Kau terisak menagis menyesali sewindu
kebersamaan kita. Sewindu kasih dan cinta kita terjalin. Hanya karena satu
permintaanmu yang tak dapat aku berikan, semua itu menjadi puing-puing yang tak
akan lagi utuh. Titik-titik lembut hujan tak menghambat perdebatan kita.
Perdebatan yang selalu berujung dengan tangismu disertai guntur yang
menggelegar.
Badanmu terguncang karena tangis yang begitu mengiris. Aku pegang pundakmu dan
kau tertunduk masih dengan derai air mata dan hujan menyertai. Aku tak dapat
ucapkan apa-apa. Aku hanya menggigit bibirku. Sewindu ini, kita jalin cinta
dengan jarak yang jauh. Kau berharap aku berpikir untuk serius dalam sebuah
hubungan yang lebih baik. Hubungan yang menurutmu akan membuahkan hasil,
hubungan yang dapat membawa kita dalam sebuah tujuan-tujuan mulia. Kau berharap
aku dapat mejadi ayah dari anak-anakmu.
Setiap kau menemui aku, selalu bersama rinai hujan, bersama guntur dan bersama
isak tangis. Aku juga berharap pikiranku berubah, namun selalu saja bayangan
kelam yang terjadi pada keluargaku menjadi patokan dalam hidupku. Aku terlahir
dari hubungan tanpa setatus. Papa dan Mama tak pernah menjalin sebuah
pernikahan. Kata mereka menikah cukup dalam hati. Walau akhirnya, aku menjadi
anak zina. Anak yang terlahir tidak sah. Mereka tetap bertanggung jawab
membesarkan dan menyekolahkanku. Sampai ketika prahara datang, karena Papa
menikahi wanita lain dan Mama merasa dihianati. Aku terlempar jauh dan harus
tinggal di panti asuhan.
Semua itu, menjadikan aku mempuyai pilihan yang menyesatkan. Benciku pada Papa
belum juga hilang. Dan kebodohan mama teramat sangat. Karena mereka aku jadi
takut menikah. Sewindu, ini telah aku coba lunakan kebencianku terhadap
pernikahan. Namun aku gagal. Bayangan masa lalu itu tetap membekas. Mungkin
karena aku terlahir dari kegilaan dan kesesatan kedua orang tuaku.
Senja masih basah. Kau dan aku masih terdiam. Ditengah hamparan rumput hijau
sebuah taman kota. Badan kita semakin mengecil dan memucat. Bibirmu semakin
membiru, dan kelopak matamu semakin membengkak. Kita seperti dua burung merpati
yang meratap kedinginan, mengharap atap untuk berteduh namun hanya hamparan
rumput tanpa ada pohon rindang. Kau sudah mendapatkan cintaku, setulus tulusnya.
Kau hanya meminta agar aku punya hak untuk dirimu.
Menikah memang sebuah kewajiban, yang di perintahkan olehNya untuk umat manusia.
Dan aku semakin jauh dariNya, karena aku menolak perintah itu. Senja yang basah.
Kita menangis bersama, dalam naungan hujan dan getaran gemuruh guntur yang
menggelegar. Kita masih sepakat untuk tetap mencinta walau kau akan berlalu
kembali meninggalkan aku. “I can’t to forget you, because I think loves be not
sin. Loves is godsend. Don’t befool your heart. Because I think you can’t to
be”. Itu pesan terakhirmu, sebelum kau benar-benar berlalu bersama petir yang
mengelegar dan menyambar tubuhmu lalu membantingnya, lalu tubuhmu pun terbakar.
Kau tinggalkan aku di sini tanpa janji lagi, kau hanya berpesan “bahwa cinta
bukan dosa. Dan jangan bohongi hatimu, karena kau tak akan dapat merasakan cinta
tanpa menikah”.
Senja yang basah, sekelabu hatiku. Kepergianmu, setelah penantian sewindu. Aku
bersalah, aku selalu takut untuk menikah. Akhirnya Tuhan memanggilmu karena
setiamu menunggu kepastianku. Kau meninggalkan aku di sini bersama
kepingan-kepingan sesal yang teramat sangat. Kau gadis yang setia, aku laki-laki
pecundang.
Senja yang basah, saksi cintamu yang bersih. Aku menangis, bersama hancurnya
impian-impianmu bersamaku. Aku mengerti, bahwa cinta butuh pengakuan yang suci.
Palapa, Desember 2009
Senin, 08 Maret 2010
Cerpen: Aku Benci Menikah » Annida Online
Label:
Cerpen annida