Rabu, 03 Maret 2010

सर्पें अन्निदा 2

Cerpen: Ayah Hutan » Annida Online

Ayah Hutan
Diposting: Senin, 24 Agustus 2009 / 07:12:19 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen


Penulis : Alimuddin
Ketika pulang sekolah, aku menjerit besar. Ingin menangis,,"di mana aku bermain
karet setelah ini Mak?"Halaman rumahku sudah penuh dengan pohon-pohon. Yang
menanam itu, Ayah. Setelah berganti baju, aku berkeliling kampung. Di bangku
meunasah (mushala) aku temukan Ayah bersama dengan Ayah-Ayah lainnya. Sekilas
kudengar, lagi-lagi, hutan, hutan, hutan... pam pum tam tum, hutan terus. Ayah
seperti menganggapku seorang asing, padahal mata kami sempat beradu.

Tak terasa air mataku menitik, Aku menemukan pemandangan menyedihkan hari ini.
Rupanya Ayah-Ayah kami telah menanam pohon-pohon di halaman bermain kami.

Lalu berminggu-minggu, di rumahku, di mana-mana sudah ditanam pohon oleh Ayah.
Rumahku sudah dipenuhi pohon-pohon. Hutan. Ya, sudah menyerupai hutan. Lalu
berbulan-bulan, Ayah sudah mulai menanam pohon di sumur kami. Mak tidak berani
melarang. Aku apalagi. Takut Ayah naik marah. Dan aku temukan pemandangan
menyedihkan itu di seluruh rumah-rumah di kampung. Perkampungan ini perkampungan
hutan.

Suatu senja aku topang dagu berpikir, sama saja Ayah kami pulang ke kampung atau
tidak. Ayah seperti tidak bisa memeluk kami. Ayah tidak antar sekolah. Ayah
tidak ajarkan mengaji. Tidak ajak main. Malah yang ada, Ayah-Ayah telah merebut
halaman bermain. Sepertinya aku yang penuh pengharapan perlahan-lahan merembes
keluar dari tulang-tulangku, meninggalkan hitam kasar rasa merana, sekasar
batang pohon-pohon Ayah itu.

***
"Tapi sebelum Ayahmu menghuni hutan rimba. Sekarang Mak kurang tahu..." Seperti
tidak ingin didahulukan, Mak berkata cepat dalam kepalaku.Tiang listrik
dipukul-pukul kuat. Waktu pulang.

"Besok kita lanjutkan menulis surat." Bu Cut Haslinda memasukkan buku-buku ke
dalam tas hitamnya. Setelah ucapkan salam, ia seperti terburu ingin keluar dari
kelas.

Sekian hari kami disibukkan dengan menulis surat untuk Ayahanda. Hingga telah
selesai surat itu. "Tanya dengan Mak dan adik-adik di rumah, apa yang ingin
disampaikan dengan Ayahanda." Namun Bu Cut Haslinda suruh kami tulis baru surat
itu.

Pagi-pagi telah selesai surat itu. Surat kami menjadi lebih panjang. Pada sebuah
pagi menentramkan, berwajah rindu kami sodorkan surat-surat kami kepada Bu Cut
Haslinda.
"Anak-anak, kalian tidak lupa menuliskan nama kan di surat?" Mata Bu Cut
Haslinda mengerling ke arah kami. Sebagian kami lupa menulis nama, sepertinya
sehingga terburu-buru berlari ke dalam kelas sambil bersorak-sorak pada
teman-teman kami lainnya yang berada di dalam kelas.

"Ibu guru akan kirimkan surat ini untuk Ayah-Ayah kami? Ibu guru akan jumpai
Ayah kami?" Tanyaku penuh harap.

Jawab Bu Cut Haslinda, berseri-seri,"Ibu kepala sekolah yang akan kirimkan
surat-surat untuk Ayahanda."

"Ibu kepala sekolah tahu di mana Ayah kami?"

"Iya, mungkin,"

"Ya, mungkin," kataku pelan, tidak terlalu yakin dengan kata-katanya itu.

Melalui bahu aku melihat Sakdiah yang terengah-engah berlari ke arah kami. "Bu
guru, ini surat Sakdiah..."

***

Ketika pulang sekolah, aku menjerit besar. Ingin menangis,,"di mana aku bermain
karet setelah ini Mak?"Halaman rumahku sudah penuh dengan pohon-pohon. Yang
menanam itu, Ayah. Setelah berganti baju, aku berkeliling kampung. Di bangku
meunasah (mushala) aku temukan Ayah bersama dengan Ayah-Ayah lainnya. Sekilas
kudengar, lagi-lagi, hutan, hutan, hutan... pam pum tam tum, hutan terus. Ayah
seperti menganggapku seorang asing, padahal mata kami sempat beradu.

Tak terasa air mataku menitik, Aku menemukan pemandangan menyedihkan hari ini.
Rupanya Ayah-Ayah kami telah menanam pohon-pohon di halaman bermain kami.

Lalu berminggu-minggu, di rumahku, di mana-mana sudah ditanam pohon oleh Ayah.
Rumahku sudah dipenuhi pohon-pohon. Hutan. Ya, sudah menyerupai hutan. Lalu
berbulan-bulan, Ayah sudah mulai menanam pohon di sumur kami. Mak tidak berani
melarang. Aku apalagi. Takut Ayah naik marah. Dan aku temukan pemandangan
menyedihkan itu di seluruh rumah-rumah di kampung. Perkampungan ini perkampungan
hutan.

Suatu senja aku topang dagu berpikir, sama saja Ayah kami pulang ke kampung atau
tidak. Ayah seperti tidak bisa memeluk kami. Ayah tidak antar sekolah. Ayah
tidak ajarkan mengaji. Tidak ajak main. Malah yang ada, Ayah-Ayah telah merebut
halaman bermain. Sepertinya aku yang penuh pengharapan perlahan-lahan merembes
keluar dari tulang-tulangku, meninggalkan hitam kasar rasa merana, sekasar
batang pohon-pohon Ayah itu.

***
"Tapi sebelum Ayahmu menghuni hutan rimba. Sekarang Mak kurang tahu..." Seperti
tidak ingin didahulukan, Mak berkata cepat dalam kepalaku.Tiang listrik
dipukul-pukul kuat. Waktu pulang.

"Besok kita lanjutkan menulis surat." Bu Cut Haslinda memasukkan buku-buku ke
dalam tas hitamnya. Setelah ucapkan salam, ia seperti terburu ingin keluar dari
kelas.

Sekian hari kami disibukkan dengan menulis surat untuk Ayahanda. Hingga telah
selesai surat itu. "Tanya dengan Mak dan adik-adik di rumah, apa yang ingin
disampaikan dengan Ayahanda." Namun Bu Cut Haslinda suruh kami tulis baru surat
itu.

Pagi-pagi telah selesai surat itu. Surat kami menjadi lebih panjang. Pada sebuah
pagi menentramkan, berwajah rindu kami sodorkan surat-surat kami kepada Bu Cut
Haslinda.
"Anak-anak, kalian tidak lupa menuliskan nama kan di surat?" Mata Bu Cut
Haslinda mengerling ke arah kami. Sebagian kami lupa menulis nama, sepertinya
sehingga terburu-buru berlari ke dalam kelas sambil bersorak-sorak pada
teman-teman kami lainnya yang berada di dalam kelas.

"Ibu guru akan kirimkan surat ini untuk Ayah-Ayah kami? Ibu guru akan jumpai
Ayah kami?" Tanyaku penuh harap.

Jawab Bu Cut Haslinda, berseri-seri,"Ibu kepala sekolah yang akan kirimkan
surat-surat untuk Ayahanda."

"Ibu kepala sekolah tahu di mana Ayah kami?"

"Iya, mungkin,"

"Ya, mungkin," kataku pelan, tidak terlalu yakin dengan kata-katanya itu.

Melalui bahu aku melihat Sakdiah yang terengah-engah berlari ke arah kami. "Bu
guru, ini surat Sakdiah..."

***

Cerpen: Ayah Hutan » Annida Online

Ayah Hutan
Diposting: Senin, 24 Agustus 2009 / 07:12:19 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen
Halaman ini diakses sebanyak: 313 kali | Status Posting: Publish |
Rating: 0


Entah Ayah-Ayah telah membaca surat rindu kami, tapi pada sekali petang
menjelang sembahyang magrib, kampung kami penuh dengan Ayah. Tiba-tiba saja
kampung menjadi kampung rindu. Ayah-ayah kami datang mengurung, seperti malam
menawan bulan. Malam kemarin Mak bilang, Ayah telah selesai berjuang di hutan.
Mungkin akan pulang.

Mungkin adalah jawaban ya dan tidak. Dan Mak cepat mengelus-elus
kepalaku,"Jangan terlalu berharap banyak. Takutnya kecewa hati kalau Ayahmu
tidak pulang."

Aku membayangkan rupa Ayah dengan mengingat-ingat cerita Mak,"tinggi
besar,hidung mancung, kulit kecoklatan." Sementara mata Mak sibuk menoleh.
Mencari di mana beradanya Ayah.

"Itu Ayah." Tunjuk Mak kepada sosok laki-laki tinggi besar dengan hidung
mancung. Tapi berkulit hitam.

Apa yang harus kulakukan? Aku bertanya pada kepalaku sendiri. Aku harus berlari
kah? Memeluk sosok tinggi besar itu? Aku panik ketika Ayah mendekati aku dan
Mak. Aku berharap Ayah yang akan memelukku, dan kepanikan yang menyerang ini
akan lari dengan sendirinya.

Aku menoleh ke samping, tidak seperti yang kubayangkan, pertemuan rindu ini
tidak mengharu biru. Ayah berjalan pulang ke rumah dengan gagah. Sementara Mak
dan anak mengekor di belakang, seperti kambing peliharaan.

Aku berdoa dalam hati, aku ingin Ayah memelukku. Mungkin akan mengangkatku
tinggi dan aku akan bersorak-sorak girang. Lalu kami akan pulang bertiga. Aku di
tengah. Tangan kiri-kananku menggenggam tangan Mak dan Ayah.

Ingin aku menangis, Ayah hanya mengucek-ngucek kepalaku. Kemudian seperti
Ayah-Ayah lain, dengan gagah berjalan di depan menuju rumah. Mak memelukku.
Mungkin tahu aku didera perasaan kecewa.

"Ayah sedang lelah barangkali. Ingin segera beristirahat di rumah,"Suara pelan
Mak seperti bunyi burung hantu yang bosan ber-ngu-ngu.

Sampai di rumah, Ayah bercerita tentang hutan terus-menerus dengan Mak. Ayah
tidak menanyakan bagaimana sekolahku. Ayah tidak ingin mendudukkan aku di
pangkuanku.

Hutan, hutan, dan hutan. Air mataku bercampur dengan air ketika mengambil air
sembahyang di sumur. Ayah tidak sembahyang magrib.

Meski demikian, rupaku berseri-seri paginya ketika berangkat sekolah. Berjumpa
teman-teman, cerita kami hanya mengenai Ayah. Pagi itu pun, Bu Cut Haslinda
masuk ke dalam kelas dengan wajah sangat berseri-seri.
Ketika pulang sekolah, aku menjerit besar. Ingin menangis,,"di mana aku bermain
karet setelah ini Mak?"Halaman rumahku sudah penuh dengan pohon-pohon. Yang
menanam itu, Ayah. Setelah berganti baju, aku berkeliling kampung. Di bangku
meunasah (mushala) aku temukan Ayah bersama dengan Ayah-Ayah lainnya. Sekilas
kudengar, lagi-lagi, hutan, hutan, hutan... pam pum tam tum, hutan terus. Ayah
seperti menganggapku seorang asing, padahal mata kami sempat beradu.

Tak terasa air mataku menitik, Aku menemukan pemandangan menyedihkan hari ini.
Rupanya Ayah-Ayah kami telah menanam pohon-pohon di halaman bermain kami.

Lalu berminggu-minggu, di rumahku, di mana-mana sudah ditanam pohon oleh Ayah.
Rumahku sudah dipenuhi pohon-pohon. Hutan. Ya, sudah menyerupai hutan. Lalu
berbulan-bulan, Ayah sudah mulai menanam pohon di sumur kami. Mak tidak berani
melarang. Aku apalagi. Takut Ayah naik marah. Dan aku temukan pemandangan
menyedihkan itu di seluruh rumah-rumah di kampung. Perkampungan ini perkampungan
hutan.

Suatu senja aku topang dagu berpikir, sama saja Ayah kami pulang ke kampung atau
tidak. Ayah seperti tidak bisa memeluk kami. Ayah tidak antar sekolah. Ayah
tidak ajarkan mengaji. Tidak ajak main. Malah yang ada, Ayah-Ayah telah merebut
halaman bermain. Sepertinya aku yang penuh pengharapan perlahan-lahan merembes
keluar dari tulang-tulangku, meninggalkan hitam kasar rasa merana, sekasar
batang pohon-pohon Ayah itu.

***
Sekali waktu pulang sekolah, aku menangis keras, di kamar tidurku, yang ternyata
sudah penuh dengan pohon-pohon. Daun-daun pohon itu telah menyentuh atap-atap
kamarku. Tidak ada lagi kini ruang tanpa pohon-pohon. Sumur, dapur, ruang tamu,
kamar tidur Mak ditumbuhi pohon-pohon Ayah.
Dan kini kamar tidurku menjadi korban pohon-pohon Ayah. Seharian aku menangis
saja. Ayah yang kutahu-aku tahu dia tahu tentang tangisanku, seperti tidak
melakukan kesalahan saja. Kudengar siulan tenangnya dari kamar pohonnya.
Lalu dengan suara besar Ayah berbicara tentang hutan kepada Mak. Sepertinya Mak
hanya bisa mengangguk-angguk saja pada Ayah. Mak tidak bisa selain itu.Ketika
Ayah menjenguk kamarku, di antara bintang-bintang air mata, di sela-sela
ruang-ruang pohon-pohon itu, aku bisa melihat kepala Ayah yang aneh. Banyak
pohon-pohon kecil yang tumbuh di kepala Ayah.


Darusallam, April 2009
Lelahnya kehidupan
Merangkai bunga.

0 komentar:

 

Great Morning ©  Copyright by It's a long long journey | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks