Cerpen: Aku Kupu-kupu Cokelat 3» Annida Online
Aku Kupu-kupu Cokelat
Diposting: Senin, 28 September 2009 / 15:41:49 | Oleh: annida | Kategori: Cerpen
Aku benar-benar membiarkan air mata mengering jatuh ke tanah. Istriku terhimpit
ranting kayu meranti, satu sayapnya terbanglah sudah, merintih kesakitan yang
mengguncang bumi, keperihan yang selalu dikenang di mataku. Nafasnya yang
terakhir pergi dari belaian sayapku.
Aku memang tak cacat sedikit pun, kejadiannya saat aku berada di sungai.
Anakku yang senada denganku juga mangkat bersama kupu-kupu lain. Hanya aku yang
masih utuh di luar, di dalam remuk, di dalam ada kesedihan, di dalam ada dendam,
di dalam ada benci.
Kayu-kayu tumbang, merintih.
"Kupu-kupu hijau, apakah itu rindu? Kami belum ingin pergi dari dunia
ini. Kami punya kenangan manis, punya kenangan pahit, punya air mata dalam
serat batang-batang yang di dalamnya tersimpan bola-bola dunia. Bola dunia itu
indah.
Di negeri ini kami menemukan kupu-kupu yang terbang dari bunga ke bunga.
Kami punya surga, tapi surga itu dilenyapkan oleh manusia. Kupu-kupu hijau
selamatkan kami?"
Benar! Benar! Benar, surga kita negeri hijau tumbang. Tak ada yang dapat
aku selamatkan, hanya keping-keping kenangan yang lebih pahit dari bunga bangkai
yang pernah kucicipi.
Pada bulan-bulan yang datang silih berganti. Aku terbang dengan sayap setengah
warna hijau mulai memudar, mengeling bekas-bekas kayu, bahwa di sini pernah ada
surga, bahwa di sini aku mewariskan senada kepada anakku. Semua itu tak lagi
kutemui. Hanya ada cerobong-cerobong mengeluarkan asap. Terdengar jeritan tanah
yang dikupas, dibumiratakan.
"Tuhan, aku rindu Engkau, rindu kasih sayang-Mu, rindu cinta-Mu. Jangan
biarkan orang-orang kota mati meluluh-lantakkan kami. Tuhan atom yang mengandung
proton, neutron, elektron dalam tubuh kami tak lagi bergerak menurut apa yang
Kau kehendaki, manusia telah mengingkari keberadaan kami."
Sayapku tak lagi hijau muda; cokelat tua yang sudah membayang dengan
gurat kepasrahan di tubuhku. Warna asap itu telah mengubahku, telah melunturkan
warna muda, mungkin takkan pernah tercicipi lagi. Sedang negeriku gundul senada
dengan warna yang kuwarisi, menyisakan kepasrahan, ketidakberdayaan; bahwa
sebuah cerita rindu lama akan dikubur. Sempuna sudah metamorfosisku, sayap
cokelat bertitik hitam lingkaran putih serupa mata di kanan kiri.
***
Keberadaan sayapku bewarna cokelat di kota manusia, di kota orang mati harus
kusyukuri. Hanya dengan begini aku bisa beradaptasi, terbuang dari negeri
sendiri.
Aku meleset terbang semakin menyusuri kali. Baunya yang menyisakan amis sangat
mengerikan, sedangkan di tepi kali rumah-rumah bertiang kayu menjorok ke sungai
layaknya selat. Agak ke tengah berjajar rumah-rumah pembuangan limbah perut. Aku
mendekat mencoba mencari, mungkin di sana bertengger madu. Hampir saja sayap
gelapku ditimpa tinja salah satu pembuangan berdinding terpal lusuh. Aku
terperanjat ke sudut sungai, sayapku basah.
***
Sudah sebulan di kota yang penuh susah, sudah sebulan tak lagi memiliki tempat
di negeri kupu-kupu, sudah seminggu hujan mengguyur tanpa henti. Semua harus
ditanggung bukan oleh segelintir orang, bukan oleh orang-orang yang kehilangan
hati, orang yang tak tahu menahu ikut mereguk akibat.
Galodo datang dari bukit melewati tebing, melewati bebatuan. Bunyinya
gemuruh menggetarkan anak telinga, masuk ke ruang yang berbentuk siput. Galodo
itu semakin dekat dengan pandangan mata orang-orang kota mati. Di dalam galodo,
kayu-kayu setengah meranggas, patah bergulum ke hilir sungai. Puing-puing rumah
sudah jadi kapas dengan perahu seng berair cokelat. Galodo menghanyutkan
pohon-pohon palem, bergulum ke kolam-kolam gedung bercakar langit, kerumah-rumah
bertingkat yang menyimpan mobil kehilangan manfaat.
Negeri kami negeri kupu-kupu sudah kehabisan sabar. Bukit-bukit gundul, tak ada
kayu muda, tak ada kayu kenari, kalek, meranti. Tak ada akar-akar yang menahan
air mengalir ke hilir.
Sekarang aku tak lagi punya tempat di kota mati. Sayap cokelat barangkali
berubah jadi biru laut. Di laut ada tempat luas, sayang aku sudah terburu
meletakkan nafas. Sebatang pohon palem bersedia bergulum denganku.
Hal: 3
Rabu, 03 Maret 2010
सर्पें AnNida
Label:
Hiburan