Senin, 08 Maret 2010

Cerpen: Sorban Buat Ayah » Annida Online

Cerpen: Sorban Buat Ayah » Annida Online

Sorban Buat Ayah

Penulis : Elie Mulyadi
Ayahku menginginkan sebuah hadiah untuk lebaran. Sebuah sorban. Ya, hanya sebuah
sorban. Tapi bukan sorban biasa yang bisa kautemui di toko-toko baju di kota
kecilku, melainkan sorban istimewa seperti yang dimiliki seorang ustad ternama.
Ustadz itu sering tampil di layar kaca, dan kalau tampil selalu mengenakan
sorban yang modelnya sama. "Aku ingin sorban yang seperti itu, itu akan menjadi
hadiah lebaran terindah untukku."
Aku tahu, aku harus memenuhi keinginan Ayah. Dan aku sudah berusaha semampuku,
berkeliling pasar dan toko-toko baju di seluruh kotaku. Namun sampai tiga hari
menjelang lebaran, sorban itu belum juga kudapatkan.

Kemudian aku mendapat kabar dari seorang tetangga yang kebetulan punya sorban
yang mirip dengan ustadz ternama itu. Sorban berbentuk segiempat yang bisa
dililit-lilit di kepala.
"Belinya di mana, Pak Haji?" tanyaku pada Pak Haji pemilik sorban. Dan dia
menjawab dengan bangganya, "Ini saya beli di Bandung, dari butik muslim. Yang
beginian memang cuma ada di Bandung. Di kota kecil ini mah tidak ada. Harganya
juga mahal. Lima ratus ribu."

Kakiku seperti mencelos dari pijakan. Lima ratus ribu? Belum ongkos ke
Bandungnya. Untuk pulang pergi naik bus saja takkan kurang dari dua ratus ribu.
Aku terduduk lesu.

"Daripada repot-repot pergi ke Bandung," kata Pak Haji. "Beli saja punyaku, tapi
harganya sejuta."

Mataku membelalak seolah mau keluar dari rangkanya. Sejuta? Duh, Pak Haji ini,
yang benar saja. Darimana aku dapat uang sebanyak itu? Baiklah, uang sejuta di
jaman sekarang tidaklah sangat besar, tapi untuk ukuran pemuda yang masih
menganggur sepertiku, jumlah itu cukup untuk membuat leher terasa kaku.

Aku pulang ke rumah dengan hati risau. Kulihat Ayah sedang duduk di kursi
goyang, semakin hari kesehatannya semakin mencemaskan. Umurnya bertambah tua,
sakit-sakitan dan...kesepian. Anak-anaknya, kecuali aku, sudah pergi merantau ke
kota besar. Mereka seolah sudah tak mempedulikan dirinya. Dan sekarang,
satu-satunya keinginannya, yakni memiliki sorban yang mirip kepunyaan ustadz
favoritnya, tampaknya takkan terkabul.

Aku sedih memikirkan ayahku. Juga sedih memikirkan diriku. Sejak lulus SMA,
teman-temanku sudah pergi ke luar kota, baik untuk kuliah maupun mencari kerja.
Mereka memberikan kebanggaan pada keluarga yang ditinggalkan, baik reputasi
sebagai mahasiswa, maupun upah yang dikirim setiap bulannya. Sedangkan aku,
hanya bisa duduk di sini, di rumah ini, menunggui ayahku yang semakin larut
dengan dunianya sendiri. Dia sudah tua, dan yang dibicarakannya hanyalah
kematian.

"Kalau aku mati, tolong kuburkan di halaman belakang, di samping nisan ibumu,"
ujar Ayah suatu kali. "Kalau aku mati, kau harus pergi merantau dan menemui
kakak-kakakmu," ujar Ayah di kali yang lain. "Kalau aku mati, siapa yang akan
mengurusmu?" isak Ayah sambil memelukku seolah aku ini anak kecil. Hey, umurku
bukan 2 tahun, tapi 22 tahun!
Di kesempatan lain, Ayah berubah menjadi pemberang. Seharian marah-marah dan
membanting barang. "Berhenti genjrang-genjreng, atau akan kubuang gitar bututmu
itu!" hardik Ayah saat melihatku duduk-duduk di teras sambil memetik gitar,
menirukan suara serak vokalis ST12.
Semarah apapun Ayah, aku tak pernah merasa tersinggung atau kesal. Aku memaklumi
bahwa semakin tua, perangai seseorang akan semakin tak menyenangkan. Ayah
kembali menjadi bayi kecil yang rewel, dan itulah siklus kehidupan. Yang muda
menjadi tua dan kembali seperti anak kecil lagi. Tapi kalau Ayah sudah
menyinggung soal gitarku, apalagi mengatainya sebagai "gitar butut", kemarahanku
langsung terlecut.

"Ayah jangan bilang ini gitar butut. Biar butut, ini adalah masa depanku,"
ujarku setiap kali Ayah mengomeli gitarku. Bagi Ayah, aku dan gitarku ini ibarat
sosok seniman muda yang kumal dan putus asa, sama seperti yang sering ditemuinya
pada sosok pengamen jalanan yang semakin lama semakin memenuhi sudut-sudut kota.

Aku sadar, aku masih menganggur. Tak bisa memenuhi semua kebutuhan Ayah. Tapi
sejak lulus SMA, gitar inilah satu-satunya temanku, dan harapanku. Dengan gitar
ini, aku sudah menciptakan beberapa lagu, yang sekarang sudah diputar sebagai
jingle-jingle di radio lokal. Aku tak berharap menjadi seorang penyanyi
terkenal, namun bagiku gitar ini punya masa depan. Aku akan terus mencipta lagu,
dan mungkin suatu saat nanti akan ada yang mau membeli lagu-laguku untuk
dinyanyikan para penyanyi terkenal. Aku akan mendapat royalti dari lagu-laguku,
dan kata temanku yang sudah hampir lulus sarjana, itu namanya passive income.
Lebaran tinggal dua hari lagi. Pak Haji sudah menanyaiku lagi apakah aku
tertarik untuk membeli sorbannya. Aku belum menjawab. Sebenarnya, aku sudah
berusaha menelepon kakak-kakakku yang katanya berhasil di perantauan. Tapi tak
ada satu pun dari mereka yang merespon kata-kataku.

"Ayah ingin sorban yang mirip punyanya ustadz di TV? Emangnya Ayah mau tampil di
TV! Ada-ada saja kamu," ujar kakak sulungku yang sekarang sudah jadi karyawan
sebuah bank di Jakarta.

"Beliin saja sorban yang ada di pasar, Ayah pasti tidak akan tahu," kata kakak
keduaku yang sekarang sudah jadi manajer toko elektronik di Tangerang.

"Hah, sejuta? Mana ada sorban yang harganya segitu! Cari aja yang dibawah
seratus ribu, pasti banyak," usul kakak ketigaku yang sudah jadi istri
pengusaha. Sejak menikah, kakakku yang ini memang jadi agak pelit. Uangnya hanya
dipakai untuk ke salon dan belanja, tapi tak sedikitpun tertarik untuk
membelikan sesuatu yang disukai Ayah.

Aku masih ingat, selalu ingat, setiap kali lebaran datang, ketiga kakakku akan
pulang. Mereka datang dengan mobil mengilap, pakaian bagus, dan oleh-oleh
sebagasi penuh. Namun satu yang mereka tak pernah lakukan, bertanya kepada Ayah,
apa sih sebetulnya yang beliau inginkan. Mereka menghabiskan banyak uang hanya
untuk oleh-oleh yang menurut mereka bagus, mahal, atau hanya dapat dibeli di
kota besar. Tapi mereka tak pernah tahu, dan tak mau tahu, hadiah apa yang akan
membuat Ayah merasa spesial.

Malam itu, dua hari menjelang lebaran, aku berkumpul dengan teman-temanku seusai
shalat tarawih. Seperti biasa kami kumpul di pos kamling, menyiapkan segala
sesuatunya untuk keliling kompleks membangunkan sahur besok pagi. Aku memang
aktif menjadi pengurus karang taruna dan masjid selama Ramadhan ini.
Tiba-tiba, Amiruddin, salah seorang dari kami, mengajak aku dan Bondan menjauh.
Kami pergi ke tempat yang agak tersembunyi.
"Kalian tahu Haji Surya kan?" Amiruddin berbisik. "Kabarnya dia lagi berangkat
ke Semarang, mau lebaran di sana. Rumahnya kosong. Kalau kalian berminat ikut
denganku besok malam saat orang-orang shalat tarawih, kita bisa bagi hasil..."

Aku dan Bondan saling berpandangan. Sesaat otakku berputar, berusaha mencerna
makna dari kalimat temanku itu. Tiba-tiba perutku terasa mual. Apa ini? Dia
sedang membicarakan rencana perampokan?

"Ada dua buah TV 29 inch di ruang tengah, satu lagi di kamar, dan sekotak
perhiasan di lemari pakaian," Amirudin sibuk menjelaskan. Jelas saja dia tahu
benda-benda berharga milik Haji Surya, karena dia mantan pegawai di rumah itu.
Amir pernah bekerja sebagai tukang kebun lalu naik pangkat menjadi sopir
pribadi, dan dipecat karena ketahuan pacaran dengan salah satu anak perempuan
Haji Surya.

"Tugasmu hanya berjaga di luar, memberi tanda kalau ada orang datang, dan
sebagai imbalannya, kau boleh memiliki salah satu dari TV 29 inch itu,"
bujuknya.

Dengan dada berdebar, aku mulai menghitung-hitung. TV 29 inch kan harga
pasarannya sekitar dua juta. Kalau laku sejuta saja, itu akan cukup untuk
membelikan Ayah...

Oh, tidak! Aku bergidik dan menggelengkan kepala.

"Tapi ayahmu sangat menginginkan sorban itu, dan memenuhi keinginan orangtua
wajib hukumnya," Bondan yang sudah terkena bujukan Amirudin berkata enteng.

"Iya tapi bukan dengan jalan merampok," bantahku.

Amirudin tertawa dan menepuk bahuku. "Ya udah terserah. Tapi kalau kamu berubah
pikiran, besok malam kita kumpul di pos kamling, aku akan paparkan strateginya.
Dan ingat, ini misi rahasia." Akhirnya, kami bertiga pun bubar.

Malam itu aku tak bisa tidur. Rencana teman-temanku begitu mengusik batinku. Aku
mencoba menghapus pikiran yang mengusik itu dengan memetik gitar di kamarku.
Namun dari kamar bawah, Ayah terbatuk-batuk keras dan berteriak, "Gitar bututmu
itu membuat telingaku sakit!"
Esoknya aku bergerak ke sana kemari, meminjam uang ke sana-sini, kepada
teman-temanku sesama pemuda masjid, dan kepada orang-orang yang suka nongkrong
di pangkalan ojek. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, tak ada yang bisa
membantuku. Hari semakin sore. Azan maghrib tiba, namun bukannya senang karena
bisa berbuka puasa, aku malah cemas. Ketika adzan Isya terdengar, dan
orang-orang mulai pergi ke masjid untuk tarawih, kita kumpul di pos kamling,
kata-kata Amirudin terngiang lagi.
Setelah shalat maghrib, aku tidak pergi ke masjid untuk mempersiapkan karpet
untuk sholat tarawih seperti biasanya. Aku mengurung diri di kamar. Bimbang.
Lalu kupetik gitar pelan-pelan. Ayah terbatuk dan berteriak, "Bukannya ke mesjid
atau ngaji, malah genjrang-genjreng. Makin hari kamu makin seperti berandalan
saja!"
Kulemparkan gitar ke sudut kasur. Bunyi senar beradu dengan pinggiran ranjang
kayu membuat hatiku resah. Aku semakin gelisah. Sudah seminggu ini batuk-batuk
Ayah semakin parah. Sudah beberapa kali aku mengantarnya berobat ke rumah sakit,
namun belum sembuh juga. Aku takut Ayah takkan bertahan lebih lama. Sementara
keinginannya untuk memiliki sorban belum terpenuhi. Apa yang harus kulakukan?
Lusa adalah lebaran, dan besok adalah hari terakhir di mana aku bisa membelikan
sorban sebagai hadiah lebaran untuknya.

Aku tahu, sebetulnya Ayah tidak terlalu menginginkan sorban itu. Ayah ingin naik
haji. Namun dia tahu, dia tak bisa meminta kepada anak-anaknya, meskipun
kakak-kakakku pasti mampu membiayainya. Dan sorban adalah semacam pelipur lara
hatinya. Hanya itulah satu-satunya hadiah yang ia tahu takkan memberatkan
anak-anaknya, namun bahkan kakak-kakakku tak menggubrisnya. Kini hanya aku yang
bisa mengabulkan keinginan Ayah-membelikan sorba itu sebagai hadiah.

Tak terasa azan isya berkumandang. Amirudin dan Bondan pasti sudah menungguku di
pos kamling. Akhirnya dengan sejuta kebimbangan merayap, sekaligus berputarnya
akal sehat, kuganti baju koko dan sarungku dengan kaos oblong dan celana jins
yang lebih simpel. Lalu pelan-pelan kubuka pintu kamar. Ayah sedang wiridan di
kamarnya, dan kupastikan ia benar-benar tidak melihatku. Dengan hati-hati, aku
berjalan keluar, menutup pintu dan meninggalkan rumah....
***
Hari lebaran tiba. Suara takbir berkumandang melalui pengeras suara.
Kakak-kakaku sudah datang dari rantau semua. Rumah ini jadi terasa ramai dan
hangat kembali. Yah, meskipun hanya akan berlangsung dua atau tiga hari,
lumayanlah untuk menghapus kesepianku bersama Ayah selama setahun ini.
Tadi malam kami sudah berkumpul bersama, saling melempar canda tawa.
Kakak-kakakku sibuk mengangkut oleh-oleh yang mereka bawa dari bagasi. Baju,
sarung, peci, dan aneka jenis makanan mahal tertumpah semua di meja, menunggu
giliran untuk dibuka oleh Ayah. Namun wajah Ayah tidak terlihat gembira.
Kegembiraannya baru terlihat saat ia mengambil sebuah bungkusan kecil yang
kuletakkan di antara tumpukkan hadiah mahal itu. Sementara aku menyibukkan diri
untuk bermain bersama keponakan-keponakanku, mataku menangkap detik-detik ketika
Ayah membuka hadiah itu. Hadiah sorban yang telah lama diimpikannya. Dan kedua
matanya berkaca-kaca.

Sepulang shalat ied, Ayah sudah menunggu kami untuk bergiliran sungkeman
padanya. Dan sorban itu sudah melilit di kepalanya, membuatnya tampak seperti
seorang ustadz betulan. Ketika aku sungkeman padanya, Ayah berbisik. "Aku sudah
tahu," katanya. Ia mengusap kepalaku dan mengucapkan terima kasih. Kurasakan air
mata jatuh di pipinya, seperti halnya air mataku juga.

Aku tahu, aku telah banyak mengecewakan Ayah. Sementara kakak-kakakku sudah
sukses di rantau, aku masih menganggur di rumah. Tapi aku tahu, Ayah mengerti
bahwa aku memilih tetap di rumah agar bisa menemani dan merawat Ayah-sesuatu
yang tak bisa dilakukan oleh kakak-kakakku.

Aku tahu, Ayah mengerti banyak hal tentang diriku, jauh lebih banyak dari yang
aku kira.

Dan pagi ini ketika kami berjalan keluar rumah untuk bersalam-salaman dengan
tetangga kompleks, terdengar rebut-ribut. "Ada apa ini?" tanya Ayah. Pak RT
segera menghampiri kami dan menjelaskan, "Kemarin malam rumah Haji Surya
dirampok, dan perampoknya sudah tertangkap. Ternyata si Amirudin dan Bondan.
Mereka babak belur dihajar warga. Kita harus cepat bantu mengamankan mereka."

Aku terdiam lama sekali, sementara Ayah menatapku. "Bukankah mereka
teman-temanmu?" bisiknya.

Aku tertunduk. Ah, ya Allah, seandainya aku tergoda untuk ikut dalam perampokan
itu...

Malam itu aku memang tidak pergi ke pos kamling tempat kami bertiga janjian.
Aku...pergi ke rumah seorang teman. Membawa suatu misi yang sangat berat untuk
kulakukan: menawarkan gitarku. Yah, meskipun sudah butut, tapi gitar itu
sebetulnya mahal dan sudah jarang di pasaran. Gitar itu adalah hadiah dari ibuku
menjelang kelulusan-beliau membelikannya empat tahun lalu sebelum terkena sakit
jantung dan meninggal. Karena temanku sudah lama mengincar gitar itu, dia setuju
untuk membeli gitar kesayanganku dengan harga sejuta.

Kini gitar itu sudah tiada. Dan Ayah tahu, aku begitu berat untuk melepasnya.
Aku menginginkan gitar itu ada di sampingku seperti Ayah selalu menginginkan
sorban impiannya itu. Namun bagiku, keinginan Ayah adalah yang terpenting, dan
Ayah tahu itu...

Lebaran itu adalah lebaran paling berkesan dalam hidupku. Sekarang Ayah telah
tiada, namun aku bersyukur telah memberinya hadiah lebaran terindah yang pernah
diinginkannya.

 

Great Morning ©  Copyright by It's a long long journey | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks