Oleh: Ika Mariska
"kamu tu ya cewek, moso mau jadi wartawan. Apa nda ada pilihan
lain?" ibuku berkata saat kusampaikan keinginanku.
"bapakmu ini pengen kamu itu kalo ga jadi guru ya jadi bidan atau perawat, nah
itu pantes buat kamu nduk". Bapak ikut angkat bicara.
"iya nok ayu, kalo jadi guru itu kan selain nantinya kamu bias bekerja tapi juga
kalau sudah punya suami, suamimu juga bias keurus. Lha wong kerjanya Cuma
setengah hari toh? Nah kalo jadi wartawan atau reporter piye toh? Siang malem
nguber-nguber berita". Ibu menasehati dengan lembutnya.
"iya bu, ajeng ikut apa kata ibu dan bapak saja. Lha wong yang biayain kuliah
saya itu bapak sama ibu toh?"
"bagus itu. Itu baru namanya anak bapak". Terlihat ada senyuman rasa bangga di
wajah bapak.
*****
Menjadi seorang guru sebenarnya bukanlah menjadi cita-citaku. Tak
pernah terlintas ataupun terbayang di pikiranku untuk menjadi seorang guru. Aneh
memang, namun itulah kenyataannya. Aku hanyalah seorang anak yang ingin berbakti
pada orang tua, aku tak mau mengecewakan bapak dan ibu yang telah membesarkan,
merawat, mengasihi, melindungi, menyayangi serta mencintai sepenuh hati. Namun
jujur dalam hatiku masih tersimpan keinginan untuk menjadi seorang jurnalis
berita seperti Rosiana Silalahi pembaca berita yang terkenal hebat itu. Dia
seperti wonder women dan dia adalah idolaku. Namun sepertinya itu harapan yang
tak mungkin kulakukan saat ini. Bapak sudah mendaftarkanku untuk kuliah di salah
satu perguruan tinggi di Bandung dan memilih Fakultas Ilmu Pendidikan dan itu
artinya pekerjaanku nanti adalah menjadi guru.
*****
Akhirnya aku diterima di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung
dan mengambil program Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Saat awal masuk kuliah,
kulihat diriku di depan cermin. Ada perasaan aneh dan percaya. Hatiku berkata,
apakah ini aku? Mulai saat ini setiap aku berangkat kulliah aku harus berpakaian
selayaknya guru yang santun, anggun dan berwibawa. Jauh berbeda dengan diriku
sebelumnya yang biasa dengan style casual dan penuh tantangan. Dan tiba-tiba
hari-hariku harus kulalui dengan menjadi seseorang yang anggun. O My God, tak
pernah kubayangkan sebelumnya semua akan menjadi seperti ini. Sebenarnya bias
saja aku berontak atas semua keinginan bapak, tapi aku tak berani. Aku takut
kualat dan tak mau menjadi anak durhaka. Walau dengan setengah hati tapi
akhirnya toh aku berusaha menjalani aktivitaskuliah dengan baik. Aku tak mau
mengecewakan bapak dan ibu. Biaya kuliah zaman sekarang semuanya serba mahal,
jadi aku tak mau membuang duit kedua orang tuaku dengan percuma. Mungkin dengan
inilah caraku supaya pikiran bapak terbuka lebih luas. Dengan aku menjadi anak
yang baik, siapa tau bapak mengizinkan aku untuk mengejar mimpiku yang
tertinggal, yaitu menjadi jurnalis.
*****
Hari pun silih berganti hingga akhirnya tak terasa aku telah
menyelesaikan dua semester. Rencanaku hari ini yaitu mengunjungi perpustakaan
dan membaca surat kabar, siapa tahu ada info mengenai ujian masuk perguruan
tinggi. Hmmm....rupanya sudah ada niat dalam hati untuk pindah jurusan. Tapi...
bagaimana dengan bapak? Kalau bapak tahu, dengan diam-diam aku berniat pindah
jurusan pasti ia akan marah besar layaknya orang kebakaran jenggot.
"ah soal bapak itu urusan nanti, aku yakin mungkin bapak mau mengerti". Tekadku.
*****
Hari ini aku akan mendaftarkan diri untuk ikut tes masuk perguruan
tinggi, dan itu tanpa sepengetahuan bapak. Kalau nantinya diterima ya
Alhamdulillah, kalu tidak pun tak menjadi masalah dan itu berarti aku harus
melanjutkan studiku untuk menjadi guru. Ya, munkin itu nasib sekaligus rejekiku
toh. Semuanya harus kuterima dengan ikhlas. Tapi aku bertekad dalam hati, aku
takkan menyerah sebelum mencoba. Kulangkahkan kaki dari tempat kosan dengan hati
yang menggebu-gebu penuh semangat layaknya orang yang akan bertempur di medan
perang untuk merebut kemerdekaan. Namun kali ini lain ceritanya, ini bukanlah
semangat untuk bertempur, melainkan semangat untuk meraih mimpi dan cita-cita.
Maju tak gentar
Menggapai harapan
Maju tak gentar
Aku harus bisa.
Mungkin itulah kata-kata yang aku bisa kuungkapakan saat ini untuk menyemangati
diriku sendiri.
Cuaca pagi ini cukup panas, walaupun waktu masih menunjukkan pukul 09.15 WIB
ditambah macet pula. Hmm....sekarang Bandung tampaknya tak ada bedanya dengan
kota Jakarta, macet dimana-mana. Mungkin itu dikarenakan jumlah kendaraan di
kota Bandung semakin meningkat seperti halnya yang terjadi di Jakarta. Banyak
kendaraan roda dua dimana-mana.
"perutku laper, makan dulu deh" ucapku dalam hati. Akhirnya kuputuskan duduk di
warung pinggir jalan terlebih dahulu sambil memesan semangkuk bubur ayam. Ramai
juga hari ini, padahal bukan saatnya weekend ataupun libur anak sekolah.
Kutengokkan kepala ke sebelah kiri, dan kuarahkan pandangan pada sesosok bocah
kecil yang sedang duduk pada selembar kertas Koran sambil membaca sebuah buku.
"ade sedang apa? Kok ga sekolah?" kuberanikan diri untuk menyapanya. Dapat
diperkirakan usia anak itu sekitar 10 tahunan.
"lagi baca buku teh. Saya udah ga sekolah, tapi saya mau tetap belajar teh"
"kenapa ga sekolah?"
"emak saya mana mampu nyekolahin saya lagi. Ini aja saya mau ngamen cari duit"
Ya Tuhan anak sekecil ini harus mencari nafkah? Batinku.
"nama kamu siapa?"
"Gilang"
"Gilang udah makan?"
"udah tadi di rumah. Maaf teh saya harus kerja dulu".
Kemudian ia berlari mengejar angkot yang akan berhenti di lampu merah.
*****
Pukul 11.00 WIB aku telah tiba di tempat pendaftaran yaitu di
Universitas Padjajaran. Namun tak tahu mengapa hati ini mulai ragu. Aneh,
padahal ini yang aku inginkan? Tiba-tiba aku teringat pertemuanku dengan Gilang,
bocah cilik yang bekerja sebagai pengamen. Anak seusia itu seharusnya berada di
sekolah, bukan di jalan. Dari lubuk hatiku yang terdalam muncul keinginanku
untuk membantu Gilang dan anak-anak lainnya untuk mendapatkan pendidikan. Mereka
harus sekolah. Dengan semangat yang menggebu-gebu kutinggalkan tempat
pendaftaran itu dan dalam hati aku bertekad "AKU HARUS MENJADI GURU!".
Pertemuanku dengan Gilang telah mengubah hidupku.
END
Senin, 08 Maret 2010
Cerpen: Aku Harus Jadi Guru » Annida Online
Label:
Cerpen annida