Senin, 08 Maret 2010

Cerpen: “Kado lebaran ‘aan” » Annida Online

Pagi yang cerah bukan berarti menggambarkan hati seseorang. Pagi ini sangat
cerah, tak ada mendung, tak ada kabut. Yang ada hanya langit biru yang masih
dihiasi awan putih keemasan karena terkena cahaya sang mentari yang baru saja
terbit beberapa menit yang lalu. Pagi ini sangat teramat cerah, hingga
membangkitkan semangat bekerja para buruh petani padi.
Tapi pagi ini bukan pagi yang cerah untuk hati seorang bocah laki-laki berumur
enam setengah tahun. Namanya hana’, yang mempunyai arti “kebahagiaan”. Tapi hari
harinya kini tidak sesuai dengan namanya. “Aan”, itu nama panggilannya. Ia masih
bersekolah di SD wonosari dan duduk di bangku kelas 2 yang ada di desanya. Umur
yang masih terlalu kecil untuk merasakan sebuah kehilangan dan penantian.
Penantian akan seorang kakak dan ayah yang tak kunjung pulang dari perantauan.
Sudah lebih dari tiga bulan ayahnya pergi ke jakarta tanpa kabar. Entah ia baik
baik saja atau telah terjadi sesuatu. Saat ia mencoba bertanya pada ibu, hanya
sebuah jawaban yang tak pasti yang ia dapat. Ibu selalu mengatakan “ayah sedang
bekerja mencari rizki untuk aan sekolah dan beli mainan”. Sedang saat ia
bertanya akan kakaknya yang juga belum pulang dari belajarnya di negeri rantau.
Jawaban ibu tak pernah berubah “mbak alih lagi ujian, ntar kalo ujiannya sudah
selesai, mbak pasti segera pulang”.
Setiap malam aan selalu bermimpi kalo ayah dan kakaknya pulang. Ia bermain
berlarian di lapangan bersama kakaknya, mebuat layangan dan menerbangkannya di
atas bukit. Membuat lukisan alam dari cat air yang hampir habis. Bermain mobil
remote control yang di beli ayah. Mendegarkan dongeng nabi saat ia beranjak
tidur disamping ayah. Membuat mobil-mibilan dari kayu bekas bersama ayah. Tapi
saat pagi datang, semua itu hilang. Dan ia akan kembali kehilangan kedua orang
yang ia sayangi.
Seminggu yang lalu telah di adakan ujian tengah semester. Kata ibu seminggu
sebelum ujian, aan harus giat belajar, agar nanti nilai aan bagus. Dan saat ayah
dan mbak alih pulang, ia bisa menunjukkan kepada keduanya bahwa aan anak yang
pintar dan aan bukan anak yang nakal.
Setiap malam sebelum tidur aan selalu belajar. Mengulang apa yag tadi di
pelajarinya disekolah. Dan juga mengerjakan tugas untuk esok hari. Ia sangat
bersemangat untuk mendapatkan nilai yang bagus, karena ia fikir bila nilainya
bagus maka dua orang yang di nantinya akan segera pulang.
Tapi kini seminggu setelah ujian berlangsung, dan aan telah mendapatkan juara
kelas seperti apa yang dianjurkan ibunya, tapi tetap ayah dan kakaknya tak
kunjung pulang. Aan terus bertanya kapan ayah dan kakaknya pulang pada ibu, tapi
jawaban ibu dari waktu ke waktu tak pernah berubah. “Kata ibu, ayah dan kakaknya
sebentar lagi akan pulang, tapi kapan mereka pulang. Apa ukuran sebentar menurut
orang dewasa adalah berbulan bulan”fikir aan setiap jawaban ibunya terlontar.
Kata kakaknya, saat kakaknya menelephone mereka lewat telphone tetangga
sebelang, ramadhan ini ia akan pulang. Tapi ternyata sampai sekarang pun ia tak
kunjing juga pulang. Hari ini sudah hari ke 20 ramadhan, lalu kapan ayah dan
kakak pulang. Sekolah telah libur mulai besok senin, karena besok sudah hari
libur untuk perayaan hari raya.
Saat bermain bersama, teman-temannya semua membicarakan baju baru, peci baru,
pergi kerumah nenek dan bahkan ada yang bercerita kalau ia harus sibuk membantu
ibunya untuk mengantarkan pesanan roti kering ketetangga yang memesan. Dalam
hati aan, ia tak pernah memnginginkan baju koko baru, peci baru atau kue-kue
lebaran yang enak. Tidak, karena bukan itunyang diinginkannya.
Aan sering bercerita pada ibunya kalau teman-temannya sudah di belikan 3 pasang
baju koko,yang satu untuk sholat ID, yang satu lagi untuk berkeliling ke rumah
tetangga meminta maaf sekaligus menanti pemberian jajan atau uang dari sang
pemilik rumah, dan baju koko yang terakhir adalah untuk pergi ke rumah sanak
saudara. Aan pun mengatakan kalau dia tak menginginkan baju baru atau peci baru
pada ibunya. “…Karena dulu ayah pernah mengatakan hari raya idhul fitri itu
bukan bajunya yang baru tapi hatinya yang baru. kata ayah, orang yang memilik
hati yang baru itu adalah anak-anak yang soleh, yang sayang pada ayah, ibu dan
kakak. Anak soleh itu bukan anak nakal, tapi anak soleh itu anak yang pintar dan
baik. Tidak boleh bentak-bentak orang tua, rajin sholat dan mengaji. Jadi aan ga
usah di belikan baju baru, tapi aan mau jadi anak sholeh. Kata ayah anak sholeh
itu di sayang ALLAH, kalau disayang ALLAH nanti aan masuk syurga, dan disurga
banyak baju baru dan mainan baru”. Tanpa terasa air mata ibunya menetes saat
mendengar apa yang dikatakan aan. Bukan menangis karena sedih, tapi ia bangga
anaknya tumbuh menjadi anak yang pintar dan sholeh, andai ayahnya mendengar apa
yang baru saja dikatakan anaknya ia pasti akan segera pulang.
Pagi ini benar benar pagi yang cerah. Langit merwarna biru dengan biru yang
sebenarnya, diahiasi awan putih yang berbentuk seperti kapas. Burung-burung
berkicau riang, gemericik air sungai menghiasi nyanyian alam. Tapi hati aan
memang sudah benar-benar lelah menahan kesedihan dan kerinduan. Sedih karena ia
harus ditinggalkan dua orang yang ia sayangi.
Pagi ini seperti hari hari libur yang telah ia lewati. Ia membantu ibu mencuci
baju di kali. Maklum air dirumah kering, tapi air disungai jernih dan bersih,
tidak seperti air sungai yang ada di jakarta, kotor dan berwarna seperti yang
pernah dilihat aan di televisi. Setelah mencuci ia akan membantu ibunya
merapikan rumah. Ia akan menata barang-barang yang berserakan dan ibu yang
menyapu dan mengepel lantai.dan stelah pekerjaan rumah selesai ia akan minta
ijin ibunya untuk pergi ke bukit, ia akan melukis alam disana atau bila tidak ia
akan bermain bola dilapangan desa bersama teman-temannya.
Walau terlihat ceria dan tetap tampak bahagia, aan masih menyimpan kesedihan dan
kerinduannya dalam hati. Mungkin hal ini lah mengapa ia pantas mendapat nama
hana’(kebahagiaan)dari kedua orang tunya, ia akan selalu bahagia walau dalam
kesusahan.
Hari terus berlanjut, tiap adzan magrib berkumandang dan setelah selesai berbuka
dan sholat magrib selesai, Aan kembali menanyakan perihal kepulangan kedua orang
tersayangnya pada ibu. Dan jawaban ibu tak berubah dari tiga bulan yang lalu.
Tapi kali ini ibunya terlihat ragu saat mengatakan bahwa mereka akan segera
pulang saat ditanya “ apa lebaran nanti ayah dan mbak alih pulang? Aan mau
nunjukin lukisan aan ke mbak alih dan rapot sekolah aan ke ayah, aan juga mau
kasih tahu kalau puasa aan ramadhan ini penuh”.
Waktu terus berputar, hingga akhirnya magrib terakhir di bulan rhamadan ini pun
berkumandang. Semua orang bersorak mengumandangkan takbir. Berbuka dengan kolak
spesial, makan dengan daging panggang lengkap dengan buah dan sirupnya.
Bercerita akan rencana mereka besok setelah sholat ID. Tapi berbeda dengan apa
yang ada di rumah aan dan ibunya, mereka tetap berbuka dengan air putih dan
gorengan seadanya, kali ini aan mengungkapkan keinginannya setelah menanyakan
kepulangan ayah dan kakaknya ba’da sholat magrib berjamaah dirumahnya bersama
ibu. “bu…” dengan wajah memelas aan memanggil ibunya “kapan ayah dan mbak alih
pulang?” ibunya kini menjawaban dengan jawaban yang lebih panjang dari biasanya
” ayah sedang bekerja mencari rizki untuk aan sekolah dan beli mainan dan mbak
alih lagi ujian, ntar kalo ujiannya sudah selesai dan ayah selesai bekerja pasti
segera pulang, tapi ibu tidak tau pasti apa besok ayah dan mbak akan sholat ID
bersama kita atau tidak. Aan mau jadi anak sholeh kan? Anak sholeh itu anak yang
sabar, jadi aan harus sabar menunggu ayah dan mbak pulang. Aan mau dapat hadiah
syurga dari ALLAH kan”. Aan pun menjawab dengan lantang dan tegas “pasti ibu.
Aan mau jadi anak sholeh, aan akan sabar menunggu kepulangan ayah dan mbak alih,
nanti aan juga mau berdoa pada ALLAH supaya ayah dan mbak alih cepat selesai
mengerjakan tugasnya dan bisa pulang secepatnya. Karena aan sudang kangen
sekali. Bu…aan boleh minta sama ALLAH besok ayah dan mbak alih pulang ga? Kan
asik sholat ID bareng-bareng.”
Ibunya tak kuasa menahan tangis hingga keluarlah air mata itu dari matanya
sambil berucap “ pasti boleh aan, ALLAH itu sayang pada hambanya,jadi aan boleh
minta apa aja pada ALLAH tapi syaratnya aan harus jadi anak sholeh. Dan anak
sholeh itu harus sabar”.
Di tengah percakapan dua orang ibu dan anak itu, tiba-tiba terdengar suara pintu
di ketuk dan ada ucapan salam dari baliknya. Aan pun bergegas membukakan pintu
dan menjawab salam. Dan subhanallah, segala puji bagi allah yang maha atas
segalanya, yang apapun akan mudah bagiNYA bila ALLAH berkehendak. Di depan pintu
terlihat laki-laki setengah baya mengenakan Hem lengan pendek dan tas gendong
penuh isi dan satu jinjing plastik entah berisi apa.
“ayah…subhanallah” dicium tangan ayahnya dan berlari kebelakang dan kembali
menggeret lengan ibunya untuk menemui ayahnya sambil berteriak ” ibu…ayah
pulang”.ibunya bertasbih menyebut nama ALLAh, Maha besar ALLAH atas apa yang di
anugerahkannya. Suasana haru terasa di ruang tamu rumah kecil itu. Saat mereka
tengah asyik bertukar rindu tiba-tiba terdengar lagi ucapan salam dari balik
pintu depan rumah mereka. Kali ini terdengar lembut ucapan salam itu. Aan
langsung berlari membuka pintu saat jawaban salam dilantunkan oleh seisi rumah.
Dan kali ini benar benar sebuah keajaiban dari ALLAH. Dua orang terkasih yang
dirindukan aan pulang disaat yang benar-benar ia inginkan.
Malam itu mereka sholat berjamaah di rumah. Sholat kali ini terasa berbeda.
Benar benar khusuk penuh hikmah, seolah ingin mengungkap rasa syukur yang sangat
mendalam.
Selesai sholat mereka berbincang bersama melepas kerinduan dan aan pun
memamerkan lukisan lukisannya selama ini juga rapotnya pada kedua orang yang ia
sayangi yang kini telah hadir disisinya.
Tangis haru sudah tumpah sejak kepulangan dua orang itu dan kini bertambah haru
setelah lukisan dan rapot itu ada di tangan ayah dan kakaknya. “itu lukisan aan
mbak, bagus kan, hampir sebagus likisan mbak kan?...coba waktu itu melukis
bersama mbak pasti lebih bagus.tapi tidak masalah mbak, yang penting sekarang
mbak sudah pulang” cerita aan panjang lebar yang kini duduk manja di pangkuan
ayahnya.
“ini lukisan paling bagus yang pernah ada,mana ada pelukis yan merobek
lukisannya sendiri..” canda kakanya sambil menunjukkan sisi kertas lukisan itu
yang sobek. Aan tak mau disalahkan “itu ga sengaja ke dudukan waktu buka bersama
di masjid dua minggu yang lalu”
Perbincangan terus berlanjut. Aan mendapat hadiah baju koko baru dan
mobil-mobilan remote control dari ayahnya. Kakanya pun menceritakan bahwa
ujiannya sukses. Ia mendapat nilai A untuk Tugas Akhirnya. Dan besok oktober ia
bisa ikut wisuda dan mendapat gelar S.T( Sarjana Teknik) dari salah satu
Universitas terkemuka di Semarang, tempat merantaunya.
Pagi nan fitri ini adalah pagi yang cerah. Langit yang biru dihiasi awan putih
bersih, udara yang berhembus lembut, kicau burung yang riang, gema takbir yang
tak putus dari kemarin malam. Membuat suasana Idhul Fitri kali ini benar indah
apa adanya. Indah akan sebuah lukisan alam, indah akan kebahagian sesungguhnya,
indah akan kemenangan akan nafsu, indah akan jalinan persaudaraan, indah karena
kini keluarga wafiq ihza hana’ (nama panjang aan) telah berkumpul dengan membawa
kabar gembira. Walau tanpa opor ayam, walau tanpa ketupat, walau tanpa kue-kue
yang lezat, walau hanya dengan satu pasang baju koko baru, tapi hadiah Idhul
fitri aan telah ia dapatkan, yaitu pulangnya dua orang yang ia sayangi setelah
ibunya.

Tembalang,september 2009
Umi adek aq past pulang

Nama : Galih Sulistyarini
nama pena: lihsty han
Tempat, tanggal lahir : Wonosobo, 04 Desember 1988
Jenis kelamin : perempuan
Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa
Agama : Islam
Alamat : jl. Tembalang baru 1 no.88 kecamatan Tembalang, Semarang
Alamat Email : lihsty_h@yahoo.com / gsulistyarini@yahoo.com
No. Telp : 085740640146

 

Great Morning ©  Copyright by It's a long long journey | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks